3D Tanpa Kacamata Wooww Seru, , ,!!!

Lelah berkeliling Museum Mulawarman, saatnya bergeser sedikit kesebelah kiri. Yupz, Planetarium Jagad Raya Tenggarong. Planetarium ke 3 se Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini merupakan salah satu tempat wisata bergenre pendidikan di Kutai Kartanegara. Dulu dikelola oleh Dinas Pendidikan, namun seiring berjalannya waktu, pengelolaan beralih tangan ke Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar).

Seperti objek wisata lainnya di Tenggarong, planetarium yang kini memiliki beberapa koleksi film 3D (dimensi.red) tanpa kaca mata ini juga tak luput dari mati suri. Tayangan film yang monoton dalam rentang waktu cukup lama, menjadi salah satu keengganan orang untuk datang kembali meyaksikannya.

Namun semenjak dilakukan revitalisasi baik dari segi pelayanan, pengadaan film-film baru, serta penambahan sarana pendukung seperti pembangunan Taman Tata Surya di sebelah bangunan gedung utama, membuatnya bersinar kembali. Selama usai revitalisasi ini, setidaknya saya telah berkunjung lebih dari 3 kali dengan 3 jenis film yang berbeda.

Hanya dengan Rp 7.500,- perorang dan Rp 5.000 untuk anak-anak, kita bias menikmati pertunjukan 3D tanpa kacamata selama kurang lebih 1 jam. Jika sedang tidak hari libur, dan penonton kurang dari 20 orang, anda bias tetap menyaksikan pertunjukan dengan booking satu teater seharga Rp 200 ribu.

Lima belas menit pertama, kita akan belajar mengenai Galaksi Bima Sakti beserta planet-planetnya. Sesekali mendengar teriakan histeris para penonton yang kaget, saat matahari dan planet-planet yang mereka saksikan serasa jatuh tepat di atas kepalanya. Meski tanpa kursi yang bisa bergerak dan kacamata 3D, namun seolah-olah berada di luar angkasa.

Usai pertunjukan Galaksi Bima Sakti, saatnya menyaksikan film utama. Kali ini film yang diputar ialah tentang putualangan ke zaman terakhir Dinosaurus dan keluarganya. Sayangnya saya lupa judul pasti film ini hehhehehee. Lucy, seorang gadis belia putri dari ilmuan arkeology, berpetualang bersama sang ayah di sebuah kemah para ilmuan yang mencari bukti-bukti sejarah kepunahan “sang penguasa” zaman purba itu. Dalam perjalanan singkat, ia bersama sang ayah masuk ke dimensi waktu dan melihat secara langsung kehidupan keluarga Dinosaurus detik-detik sebelum bencana besar hujan meteor menghantam bumi.

Petualangan pun melintasi benua. Dari utara Asia hingga Amerika Selatan. Langkah kaki dan tingkah polah Dinosaurus dalam film tersebut, serasa berada tepat di dekat kami. Terutama saat kawanan Argenthinosaurus berlarian di padang luas, serasa kami akan terinjak-injak si raksasa berleher panjang itu.

Selain Dinosaurus, saat ini ada 2 film lagi yang diputar secara bergantian. yaitu bertajuk kehidupan ikan di laut dalam dan kisah Galileo. Dijamin satu jam berada dalam theater ini terasa begitu cepat. Terutama bagi Babyhui saya yang tertidur pulas karena takut dinosaurus hehehee.

Untuk taman Tata Surya akan lebih indah jika disaksikan pada malam hari. Dengan lampu-lampu efek yang lebih menghidupkan gugusan planet-planet di Galaksi Bima Sakti. Daripada penasaran yukz ke Tenggarong 

*****
Tenggarong- Kutai Kartanegara, masih betah jalan jalan di kota sendiri.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.