Cuaca Extrim, Flu Mengancam Nyawa

Dini hari hingga menjelang matahari terbit, suhu rata-rata mencapai 20-24 derajad celcius. Sedangkan siang hingga sore suhu mencapai 34-35 derajad, bahkan kerap bertahan hingga jam 9 malam udara masih daiat 30 derajad. Perubahan suhu yang cukup extrim bagi kami yang tinggal di wilayah khatulistiwa. Dimana kami terbiasa dengan suhu yang cukup panas.

Bagi masyarakat pegunungan apalagi belahan bumi utara mungkin suhu 20 derajad mungkin bukan sesuatu yang dingin. Namun bagi kami cukup dapat membuat menggigil. Perubahan suhu dalam 24 jam yang begitu besar, membuat keluhan kesehatan semakin banyak. Selain masalah kulit, kini Flu dan DBD turut meramaikan bursa pelayanan pasien klinik-klinik kesehatan dan rumah sakit.

Parahnya, wabah flu kali ini juga sangat eresahkan masyarakat. Terutama daerah pinggiran kota dan pedesaan. Bagaimana tidak, dalam sehari tak jarang lima nyawa melayang. Tak ketinggalan keluarga kamipun berduka. Menurut Mbah Putri kejadian semacam ini pernah pula terjadi beberapa tahun lalu.

Ku tatap wajah mbah putri saat bercerita, seperti menyimpan duka yang begitu lara yang bertahun-tahun tersimpan. Kini cuaca extrim yang sama kembali membuka lara itu. Terlebih akhir pekan lalu, si gagah yang tampan, kami menjulukinya Rambo, meninggal mendadak. Tak ada yang mengetahui pasti sejak kapan ia menghembuskan nafas terakhir. Karena saat ditemukan tubuhnya telah kaku.

“Wah kasihan Rambo berakhir di kuburan tak sempat masuk penggorengan,” seloroh tetangga sebelah. Rambo adalah ayam jago kesayangan Mas Regan. Usianya sekitar 2 tahun. Suaranya sangat merdu saat membangunkan tidur di pagi hari.

Dan kini wabah semakin merata. Dari beberapa kenalan dan kolega yang kami temui, banyak kisah ayam, itik, bebek mereka mati sia-sia tanpa diketahui sebabnya.

“Di tempat kami sehari bisa 5-6 ekor yang mati mendadak,” cerita teman mbah putri. Itulah sebabnya, jika mengetahui ternak mereka mulai kurang gairah, pertolongan pertama ialah dengan segera mungkin menyembelihnya. Sebelum penyakitnya semakin parah dan mati.

Akhirnya, untuk antisipasi sakit hati seperti saat menyeksikan pemakaman Rambo, sejak Senin lalu, setiap melihat ayam mulai tak bergairah, mbah putri menyiapkan proses penyembelihan. Ke tiga istri Rambo dan seorang anaknya silih berganti telah masuk pada panci presto. Semoga itik mbah putri tidak ikut terserang flu. #efekbosanmakanitik.

******
Tenggarong – Kutai Kartanegara, doa semoga ternak kami yang masih hidup diberi kesehatan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.