Galau dan Sedih Sensasi Jeruk Nipis

Komentar umum yang muncul saat kita mengungkap untuk membiasakan diri merasa BAHAGIA dimana dan kapanpun juga ialah fakta dari kondisi “sebenarnya”. Yaitu kondisi yang dianggap benar-benar nyata oleh setiap individu. Bagaimana jika “faktanya” saat kita benar-benar sedih dan harus “memaksa” diri untuk tetap BAHAGIA? Padahal jika diselami seluruh rasa tersebut adalah sensasi jeruk nipis.

Sebuah audio yang sangat menarik saya dapatkan dalam chanel telegram beberapa waktu lalu. Meski awalnya agak susah mencerna, semakin lama menyelami isi audio tersebut semakin jelas apa yan dimaksud sensasi jeruk nipis oleh sang motivator. Sayapun meminjam istilah tersebut untuk judul tulisan ini.

Oke, sekarang coba bayangkan apa yang kamu baca dari kalimat berikut. Konsentrasi sejenak dan baca sepenuh hati. Bayangkan saat ini kamu berada di sebuah meja makan. Di atas meja, terdapat sebuah mangkok berukuran sedang berisi 2 buah jeruk nipis dan sebuah pisau kecil yang mengkilat pun tajam. Disamping mangkok tersebut ada segelas air mineral yang sangat jernih. Kemudian ambilah satu buah jeruk nipis yang sangat asam tersebut, iris tepat diatas gelas berisi air.

jeruk nipis1

Aroma khas jeruk nipis yang masuk kehidung mu kali ini benar-benar kuat akan rasanya yang asam. Hingga tanpa disadari air liurmu pun deras membasahi rongga mulut akibat asamnya yang pekat. Semakin diperas semakin terasa asam nya dilidah. Kini seluruh air jeruk nipis telah bercampur di gelas. Dan kamu bersiap untuk meminumnya. Rasa asamnya benar-benar menyatu di lidahmu. Benar-benar asam hingga kamu bergidik.

Sekarang pertanyaannya. Apakah benar jeruk nipis tadi asam?

Jika kamu menjawab “iya” darimana kamu tahu???

Wake up guys!!! Tadi hanyalah sebuah simulasi. Pun jika terjadi di dunia nyata kita, sering sekali saat memotong jeruk nipis dan memerasnya, tanpa kita memasukkan ke mulut, sudah dapat menyimpulkan jika jeruk nipis itu asam. Benar bukan??? Padahal pada kenyataannya kita belum benar-benar meminumnya. Baru bertengger diotak kita. Menjadi sebuah sugesti jika jeruk nipis itu asam.

Begitulah kegalauan dan kegelisahan dalam diri kita. Pola pikir otak kita telah mendominasi terlebih dahulu. Sehingga “sesuatu” yang menurut orang lain biasa saja, pada diri kita justru menjadi sumber kegelisahan dan kegalauan, serta masalah besar mungkin. Fikiran kita memang sejatinya memiliki pengaruh paling besar pada kehidupan kita. Seperti sebuah computer. Saat CPU mengalami gangguan, maka layar monitor tidak dapat memberikan tampilan data sesuai permintaan.

CPU manusia adalah pikiran dan batin. Yang mengarah ke otak dilanjutkan pada penampilan lahiriah kita. Perasaan galau, gelisah, marah, cinta, BAHAGIA, de-es-te merupakan program yang dihasilkan oleh fikiran dan batin. Seperti halnya jeruk nipis tadi. Sensasinya telah mampu dirasakan meski badan kita mungkin tidak menyentuhnya. Untuk menghilangkan gangguan pada system CPU computer agar bisa berjalan normal, biasa para ahlinya akan memprogram ulang dengan memasang berbagai perangkat lunak seperti anti virus.

Nah sama halnya dengan fikiran dan batin kita, agar tak melulu terjebak pada sensasi jeruk nipis atas perasaan kita yang sebenarnya faktanya belum tentu, maka harus dilakukan pemrograman ulang. Caranya dengan memperbanyak kedekatan dengan Sang Pencipta. Masukkan berbagai anti “virus”, yaitu berupa pikiran-pikiran positif dan keikhlasan. Sebuah jeruk nipis itu bisa menjadi manis, jika otak kita biasakan mengatakan itu manis.

Semakin kita terbiasa untuk mengatakan jeruk nipis itu manis, maka saat ada orang membelahnya, atau kita sendiri membelahnya tak akan lagi terasa sensasi asam di mulut kita. Kecuali kita benar-benar mengecapnya. Bukan sekedar memikirkannya.

Selamat mencoba berlatih dengan jeruk nipis hehehehhee

jeruk nipis2

*bersambung*

*****
Tenggarong –Kutai Kartanegara, menyelami berbagai kemungkinan untuk terus bangkit!!

1 reply
  1. Eko Suseno
    Eko Suseno says:

    “Fikiran kita memang sejatinya memiliki pengaruh paling besar pada kehidupan kita.” setuju dengan ungkapan ini. Faktor akal pikiran juga yang membedakan antara manusia dengan makluk lainnya.
    Sepertinya fikiran saya butuh install ulang nie.. Hahaha…
    #blogwalkingan
    tinulis(dot)com

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.