Hari Secepat Roller Coaster

Entah hanya pikiranku saja atau memang begitu adanya. Detik, menit, jam, hari, bulan, hingga tahun terasa begitu cepat. Baru juga Subuh, tak lama disibukkan persiapan ini itu menghadapi hari tersebut, eh matahari mulai tinggi, Dhuha pun tiba. Tak lama berselang kemudian Dzuhur. Begitu seterusnya hingga Asyar, Magrib, dan Isya’. Roller Coaster mungkin nantinya akan kalah cepat dengan kendaraan yang bernama Hari.

Di bulan-bulan sebelumnya, mungkin perasaan seperti ini tak begitu terasa. Kita membiarkannya mengalir begitu saja. Sebagai rutinitas harian. Berbeda cerita saat Ramadhan seperti ini. Kondisi orang puasa akan lebih peka terhadap kecepatan waktu. Meski berada di Negara yang dilalui equator dengan waktu puasa rata-rata sekitar 14 jam, namun tak begitu terasa panjang dalam penantian waktu berbuka.

Beberapa kesempatan, kerap saya mengirim pesan singkat pada teman-teman terdekat untuk menanyakan, apakah mereka juga merasa hari begitu cepat. Rata-rata mereka akan menjawab hal yang sama. “Rasanya baru selesai weekend, ni sudah mau weekend lagi,”. Alias merekapun sepakat jika hari-hari yang dilalui begitu cepatnya.

Padahal jika diurai dengan ilmu pengetahuan pasti, dari sejak jaman batu, mungkin namanya satu hari itu ya 24 jam. Pun sama halnya dengan saat ini. Bumi mengelilingi porosnya tetap kompak dengan jam diding, jam tangan, jam digital, ataupun jam-jam lainnya. Tak ada matahari terbit atau terbenam 2 kali dalam 24 jam (kayak lapor RT setempat aja 2×24 jam).

Meski di Negara-negara yang siang atau malamnya lebih panjang, tetap mereka hanya akan merasakan terbit dan tenggelamnya matahari sekali dalam 24 jam. Malah beberapa Negara di kutub utara konon katanya saat musim panas akan merasakan sinar matahari hampir 24 dalam sehari. Saat musim dingin datang menjadi kebalikannya, sepanjang hari adalah malam.

“Wal ashri, innal innsyanaa lafii hushrin!!!”

waktu

Duh ya Allah, kuasa Mu atas semua yang ada di alam semesta ini. Cepatnya perputaran bumi dan kompaknya seluruh jam di dunia ini mengikutinya semua pun berada dalam kendali genggaman Mu.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi,”
Begitu cepatnya waktu demi waktu ini berjalan. Entah berapa banyak waktu terlewatkan dengan hal-hal syarat kesia-siaan. Berjibaku dengan berbagai kesibukan dunia, seolah manusia lupa, waktu berada di bumi semakin singkat. Umur terus bertambah, namun terkadang amal sholeh sebagai bekal perjalanan selanjutnya terlupa.

Roller coaster kehidupan semakin cepat melaju, hingga manusia hanya sibuk berteriak-teriak histeris, dan lupa meminta ampunan. Hingga saat waktu habis dan permainan super cepat itu berakhir, kadang kita hanya terdiam, dan mencoba mengingat apa yang tadi sempat dilakukan saat melaju. Ya berteriak-teriak kangerian bercampur uforia. Terbayang jika saat meluncur, tiba-tiba sabuk pengaman kita terlepas. Dan nyawapun pasti ikut terlepas.

Suka tidak suka, mau tidak mau, saat ini kita benar-benar berada dalam permainan itu. Semua serba cepat. Hingga makanan pun namanya cepat saji. Karena harus mengikuti kecepatan waktu yang semain tak terkendali. Hingga tiba-tiba sabuk pengaman kita dilepas. Berarti permainan kita berakhir dan harus kembali pulang pada Nya.

*****
Loa Kulu – Kutai Kartanegara, tak terasa Ramadhan sudah hari ke 19.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.