Hati-hati Jebakan Otak Kiri Sebelum Menulis

Penghujung pekan adalah waktu yang cukup crowded biasanya bagi saya, atau mungkin juga beberapa sahabat yang harus “kejar setoran” berkarya. Waktu yang mepet, justru malah berbuah buyarnya ide-ide untuk menulis. Pagi ini saya “harus” berupaya keras mencari sumber ide dengan membongkar koleksi buku di rak. Hingga bertemulah dengan sebuah tulisan bagus berisi “jebakan otak kiri” saat akan berkarya.

Buku Keajaiban Seribu Dinar karya Dosen STAIN Samarinda yang sekarang berganti nama Universitas Islam Negeri Samarinda Miftahul Rahman el Banjari MA ini sudah saya miliki sejak 4 tahun lalu. Lebih tua dari usia anak saya. Tapi sayangnya hingga kini belum juga selesai terbaca. Dari 206 lembar hari ini baru di halaman 83 hehehe.

Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, dalam halaman 79 – 83 terdapat ilmu menarik sebagai penulis. Mengapa suka kehabisan ide? Tak PD? Atau apalah-apalah-apalah lainnya. Jawabannya ialah karena kita mulai terjebak mitos-mitos otak kiri. Seperti:

1. Otak Kiri Berkata : Perlunya bakat khusus dalam menulis!!!
Akibatnya meski sudah memiliki semangat untuk berkarya, ditengah jalan secara tiba-tiba hilang kepercayaan diri. Menganggap diri tak memiliki bakat, hingga terjadilah keminderan. Belum lagi saat bergabung dengan komunitas penulis, dan membaca karya-karya teman sejawat bukannya semangat malah babak belur keyakinannya pada diri sendiri. “Mana bisa aku menulis begitu, aku tidak bakat!” sebuah mantra pengutuk diri yang harus segera di stop.

2. Otak Kiri Berkata: Menulis harus ilmiah jika harus berbobot!!!
Stop beranggapan demikian!!! Penulis bukan seorang ilmuan atau wartawan reportase. Yang harus akurat dalam metode dan thethek mbengeknya (selukbeluknya.red). menulis adalah menuangkan apa yang dirasa dan ditangkap oleh seluruh indra kita. Setiap jiwa memiliki cara tersendiri dalam menangkap berbagai fenomena disekitarnya. Baik yang dapat dijabarkan secara ilmiah maupun tidak. Sehingga bobot sebuah karya bukan terletak pada tingkat skor keilmiahannya.

3. Otak Kiri Berkata : Menulis itu harus banyak referensi jika ingin dianggap bermutu!!!
Memang dengan banyak baca akan banyak ilmu yang kita dapat. Seperti kosa kata baru, ide-ide cemerlang dari hasil daur ulang dan meramu kumpulan karya orang lain, dan seterusnya. Namun bukan berarti ini harga mati bagi setiap penulis. Biarkan otak liarmu bekerja sendiri melahirkan sesuatu yang fresh. Setelah tertulis barulah dalam proses editing lakukan pembenahan. Toh memiliki gaya penulisan sendiri walau dicap norak itu lebih keceeehhh sebagai identitas kita daripada kebanyakan referensi jatuhnya menjadi penjiplak.

4. Otak Kiri Berkata : Menjadi penulis itu harus bagus nilai Satra dan Bahasa Indonesianya!!!
Berarti jika ingin jadi penulis, harus lulusan Fakultas Sastra dunk ya??? tapi coba tengok atau ubeg-ubeg rumah mbah google, siapa penulis besar di negeri ini yang lulusan ilmu sastra??? Jikapun ada jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya penulis hebat disini. Dan stop memberi penghargaan atas karya orang lain sebatas tingginya nilai.

5. Otak Kiri Berkata : Buat apa menulis toh tidak ada bayarannya!!!
Sebuah karya besar itu tak ternilai harganya. Jika setiap berkarya hanya mengharap imbalan uang, apa bedanya dengan maaf peminta-minta di jalanan. Jikapun suatu saat tulisan kita dapat menghasilkan dolar, anggaplah itu sebagai sebuah efek samping saja. Bukan tujuan akhir. Karena jika tujuan hanya sebuah upah, maka sebagai penulis karya kita akan semakin menjadi fakir perkembangan.

Demikian kelima poin dalam halaman 79, yang saya coba jabarkan menurut pemahaman dan bahasa saya sendiri. Dimana garis besarnya ialah, MULAILAH MENULIS SESUAI JIWA (OTAK KANAN)!!! Baru edit dengan logika (otak kiri). Please jangan dibalik.

Tak ada kesalahan dari sebuah karya tulis yang bersumber dari hati. Asal dengan catatan masih dalam norma yang berlaku. Bukan bertujuan SARA dan SARU hehehee. Terakhir, namun bukan sebuah akhir, #MariMenulis apapun, dimanapun, dan kapanpun. Menjiplak kata-kata Mas Arief (miss you brow) “Jangan Jadi Penulis Kapir (Kakean Pikir alias kebanyakan mikir)!!!”

*****
Loa Kulu – Kutai Kartanegara, nasehat untuk diri sendiri.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.