net

Hijrah dan Istiqomah #Part2

Cerita perjalanan hijrah dan Istiqomah kali ini berasal dari seorang perempuan cantik yang rela mengubur dalam cita-cita masa belia dengan cita-cita indah untuk bekal akhirat.  Di era yang konon serba sulit ini,  pasti sangat jarang sekali seorang perempuan yang bermimpi ingin memiliki puluhan anak.  Apalagi hingga merawat ratusan anak plus mengatur segala keperluan mereka.

Inilah kisah umi Maya,  bersama ustadz Bobby Herwibowo berjuang membangun Askar Kauny, dari pesantren kecil hingga komunitas penghafal al quran listas usia,  negara,  bahkan benua.

****

Awal Mula Jadi Santri

Oleh: Maya Hayati

Saya tidak pernah nyantri dan tidak pernah datang atau lihat pesantren manapun sebelumnya. Tapi Allah jadikan sebuah episode dalam hidup saya : merintis pesantren, menjadi pengasuh dan pengajarnya sekaligus. Itu saya lakukan berdua suami yang pernah merasakan jadi santri.

Awal mula kami tiba di tempat yg akan jadi cikal bakal meluasnya pesantren kami, hingga kini ada 7 buah, saya beda pendapat dgn suami saya.

Suami : “wah ini bagus sekali”

Saya : “hah??”

Suami : “kamu nggak lihat pesantrenku atau pesantren lainnya sih. Ini sih sudah amat bagus…”

Oke lah…tapi saya hanya mau masuk ke dalamnya kalau sudah rapi dan bersih. Maka sebulan lebih berapa hari, tukang merenovasi tempat yang diwaqafkan oleh sahabat suami saya itu sesuai arahan kami berdua. Yah, tempat itu harus nyaman dan representatif sebagai sebuah rumah yang diniatkan akan menjadi sebuah pesantren nantinya. Dan masuklah kami sekeluarga: saya, suami, 4 anak, dan 3 org santri pertama kami. Ingat ya…santri pertama kami, hanya tiga orang…

Di tanah seluas hampir 2 hektar dengan gedung 2 lantai, tempat ini menjadi terlalu luas bagi kami. Terlebih lagi lingkungan pedesaan yang sepi menuntut kami semua yang ‘orang kota’ untuk beradaptasi. Tapi tidak ada halangan. Proses belajar mengajar tetap berjalan, sebagaimana saya dan suami menjalankan home schooling untuk anak2 kami di rumah kami dulunya, di jakarta. Suami juga masih terus beraktivitas. Bolak balik puncak jakarta beliau lakoni sementara saya mengurus dan mengajar anak2 dengan bantuan beberapa orang koki dan tenaga bersih2 yang merupakan penduduk asli setempat, yang pulang pergi setiap hari. Untungnya tidak lama orangtua saya bergabung juga dengan kami. Keceriaan makin bertambah. Dan entah dapat kabar dari mana, karena kami tidak pernah buat pamflet atau sebar pengumuman, santri mulai bertambah. Satu..satu.. terus begitu sampai 4 bulan pertama, sampai akhirnya awal tahun 2014 santri kami ada 20 orang dan kami memutuskan harus ada guru tambahan untuk membantu saya mengajar.

Sejak itu, saya, yang merangkap segala2nya : ibu, istri, guru, pencatat keuangan, resepsionis, supir, mulai bingung dengan keuangan. Pesantren kami, harap tau, alhamdulillah gratis…tis…tis…100%. Makan 3 kali sehari belum lagi snack sore, pakaian dicuci dan disetrikakan dan buku2 yang terus kami update. Saat santri masih sedikit sih bisa kami cover hanya dengan penghasilan suami saya seorang diri. Tapi setelah santri banyak begini, secara logika dan hitung2an saya sebagai manusia, tidak mungkin kami sanggup memenuhinya! Maka mulailah saya menyambut suami yang  pulang dari beraktivitas dengan laporan2, “sayang..besok harus belanja makanan tapi uang tinggal segini…” Atau, “sayang, besok karyawan gajian adakah uang di rekening?” Dan ribuan bla..bla..bla..lainnya. walaupun kalau sedang mengajar sih, tetap saja saya enjoy. Ajaib memang berinteraksi dengan anak2 itu… Dengan segala laporan saya, apa suami ikut pusing lalu mengurut dahinya? Atau berteriak, “kenapa ya Allah..kenaaaapaaa???” Haha..tidak.. untungnya tidak. Beliau selalu tenang sekali dan menularkan ketenangannya pada saya. “Tawakkal pada Allah ya…” katanya sambil menggenggam tangan saya. Dan sambil menyeka air mata, saya hanya bisa mengangguk sembari kembali “mengiba” pada Allah pada tiap sujud saya, “Yaa Allaah… kami ini keluargaMu. Kami menghafal firman2Mu. Aku yakin Engkau tidak akan menelantarkan kami, tidak akan membiarkan anak2 ini kelaparan bukan ya Allaah??” Do’a dengan redaksi itu rutin saya lafalkan dan jadi do’a andalan saya. Kata suami, do’a saya itu agak mirip2 dengan ‘ancaman’ hehe.

Tapi benar saja…tak pernah sekalipun, seumur kami punya santri, anak2 tidak bisa makan, karyawan dan guru tidak digaji, listrik tidak dibayar, dll… Tidak pernah tuh. Allah benar2 cukupkan kami dan Allah bukakan seribu cara untuk kami dapat bertahan. Hingga kini, ketika santri sudah dalam bilangan ratusan, pesantren terus bertambah, akhirnya kami tidak hanya berdua lagi, melainkan ada sebuah team hebat yg mengabdi di Askar Kauny -yayasan kami yg kini sudah jadi milik ummat- dan ratusan relawan ikhlas yang menjadi jembatan antara para santri kami dengan para muhsinin di luar sana. Allaahu Akbar…benar2 luar biasa bagi saya…ratusan anak kini bisa menghafal al-Qur’an dengan fasilitas maksimal yang kami bisa sediakan.

Maka setiap saya memutar balik memori saya. Saya selalu menemukan bahwa kami berdua sungguh tidak pernah bercita2 memulai ini semua.

Saya masih ingat bagaimana ketika anak2 saya masih balita semua, saya mengajar mereka, memangku mereka, memperdengarkan al-Qur’an di telinga mereka. Dan sedikit2 dengan suara cadel mereka, menyetorkan hafalan pada saya atau suami. Saat anak2 saya ingin berteman sementara saya khawatir akan pengaruh lingkungan, maka saya undang anak2 kecil di sekitar rumah untuk main di rumah kami. Saya keluarkan buku2, puzzle, mainan, dan sesekali roti isi atau puding buah agar mereka senang. Ketika anak kami mulai terlihat jenuh di rumah saja sepanjang hari, saya bawa atas izin suami, untuk menyetor hafalan di sebuah ruangan di kantor suami, yg kebetulan memang kosong. Kami cari seorang hafizh agar mereka merasa mempunyai guru yang harus dihormati, untuk mendengarkan setoran hafalan anak2 kami. Begitu para jama’ah majlis pengajian suami saya lihat, mereka rupanya ingin menitipkan anak mereka juga untuk menghafal di sore hari setelah pulang sekolah. Maka dengan uang belanja dari suami, saya belikan meja2 macam di sekolah2, karpet, white board, mencat dinding dgn gambar2 yang lucu2. Jadilah sebuah kelas yg indah untuk aktivitas anak2 surga ini. Tidak cukup satu ruangan, karena ternyata semakin banyak peminat, saya minta izin lagi pada suami untuk mengubah sebuah ruangan kembali menjadi kelas. Alhamdulillah kali ini tidak pakai uang sendiri, seorang kakak ipar yang berinfak. Kelas2 itulah yang kemudian menjadi Kauny Qur’anic School dan merupakan cikal bakal pesantren Askar Kauny. Pesantren yang baru berusia tiga tahun, tapi setelah saya renungi rupanya perjuangannya sudah dimulai sejak awal pernikahan kami. Sejak malam2 pertama kami, dimana kami berdiskusi tentang akan bagaimana rumah tangga kami ke depan.

Suami : “kita punya anak 20 gimana?”

Saya : (karena sejak gadis senang dgn anak kecil) “siap!”

Diskusi semakin dalam sampai menyentuh tema pendidikan untuk anak2 kelak. Padahal saya hamil juga belum..hehe.

Suami : “sepakat ya..berarti anak2 kita homeschooling saja.” (Padahal homeschooling saja kami tidak pernah lihat contohnya)

Saya : “iya…” (tanpa ada keraguan cita2 menjadi lawyer akan pupus)

Kini…saya dan suami memang sudah tidak tinggal bersama2 santri kami lagi. Tapi ingatan2 tentang hari2 bersama mereka tidak mungkin saya lupa. Sering, sambil melongokkan kepala dari jendela di kamar kami di lantai 33, sambil melihat ke ribuan kendaraan yang berseliweran di jalanan, saya mendengar sayup2 suara saya sendiri…

“Anak-anak…sesungguhnya umi yang bersyukur kalian ada di sini. Umi merasa, kalau hanya atas amalan umi, sulit untuk umi masuk surga. Tapi dengan adanya kalian, umi punya harapan. Semoga kalian, dengan setiap ayat yang kalian baca dan kalian hafal, bisa menjadi syafa’at bagi umi kelak. Cari umi ya nak di padang mahsyar nanti… bahkan nanti kalau kalian sudah lulus, sudah pergi dan sudah dewasa,  datang ya untuk sholatkan umi kalau umi mati…”

Dan sama seperti saya menitikkan air mata setiap mengatakan itu di depan kelas di hadapan mereka, maka saya pun juga menangis setiap mengingatnya…

Salam untuk kalian wahai santri2ku tercinta.  Selamat hari santri…

*****

Baca kisah diatas,  saya yakin ada air mata yang sempat menetes jika kita menghayatinya.  Umi Maya menukar impian duniawinya dengan impian besar untuk kelak di hari akhir.

Yukz guys persiapkan perjalanan panjang kita kelak,  hidup yang lebih kekal dan perlu tabungan amal ibadah yang tak sedikit.  Mulailah hijrahmu sebelum terlambat.

1 reply
  1. Samidi Al Ahmad
    Samidi Al Ahmad says:

    Inspirasitif,,.
    Pengin punya rumah tahfihz juga,,.
    Sudah jalan d kampung atas pengelolaan adik kandung,,.
    Semoga bisa buka askar kauny d Boyolali,,.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.