Keajaiban Tanpa Syarat

Pada dasarnya kehidupan anak manusia dari awal hingga menutup mata tak lepas dari sebuah keajaiban. Yaitu keajaiban penciptaan dari Sang Maha Sempurna. Tentu yang saya maksud bukan sekedar keajaiban bimsalabim abakadabra ala die hexe yaaa.

Putaran kedua Challence Mari Menulis kali ini, saya sengaja mengajukan tema KEAJAIBAN. Alasan utamanya, sebenarnya saya sendiri sedang ingin membuktikan, efek sebuah tulisan dan audio yang sering kita perdengarkan dengan pola fikir sehingga mempengaruhi output pada kejadian yang kita alami. Maaf jika susunan kalimatnya agak ketinggian.

Begini ilustrasinya, pernah dengar jika seorang penulis lagu dan penyanyi, saking menghayatinya dalam sebuah lagu, alur cerita dalam lagu itupun terinplementasi pada kehidupan pribadinya. Entah suatu kebetulan atau tidak. Namun sebagai seorang yang beragama, pasti kita mempercayaai bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua merupakan rentetan kisah perjalanan yang telah ditakdirkan Tuhan.

Dimana saya menemukan sebuah titik kesimpulan dari beberapa sumber, jika apa yang kita sering fikirka, bahkan dituangkan menjadi karya, hal tersebut akan menjadi sebuah rekaman yang terputar berulang kali dalam otak kita. Lebih ajaibnya lagi juga bisa mempengaruhi alam bawah sadar. Dengan bermunculan dalam mimpi tidur. Al hasil pengulangan yang continue itu menjadi layaknya sebuah doa dan berimbas pada dunia nyata si orang tersebut. Semoga bisa dipahami hehehee.

Jika ingin ambil contoh, banyak lah lagu-lagu yang akhirnya terjadi pada kehidupan penyanyinya. Cek sendirir lah, takutnya nanti jadi gibah ala gosip-gosip sele.

Lanjut pada sebuah keajaiban tanpa syarat. Dalam sebuah audio ustadz Nasrullah owner Rahasia Mahnet Rezeki mengatakan, “Keajaiban terjadi manakala kita mementingkan kebahagiaan orang lain”. Dari kalimat itu, tentu akan muncul pro dan kontra. Bahkan yang sering kita dengar ialah “Yang penting aku bahagia, tak peduli orang lain”. Wajar karena Egosentris adalah sifat dasar yang juga dimiliki setiap Bani Adam. Oleh karena itu, tak semua orang bisa benar-benar merasa bahagia saat ia mengejar kebahagiaannya sendiri. Keajaiban dari sebuah kebahagiaan itu tak muncul.

Sebuah kalimat yang juga menarik ialah “Pada dasarnya seluruh manusia itu adalah satu dan terhubung”. Pada kalimat ini, tergambar jika setiap dari kita memiliki hukum tarik menarik satu sama lain. Membahagiakan orang lain artinya membahagiakan diri sendiri. Mendoakan kebaikan untuk orang lain, berarti mendoakan yang terbaik untuk diri sendiri. Masih ingat kanya, jika kita berdia dengan tulus akan kebaikan untuk orang lain, tanpa orang tersebut ketahui, maka malaikat akan mengaminkan doa kita, pun mendoakan yang sama bagi kita. Inilah keajaiban.

Keajaiban itu tanpa syarat. Hanya otak kita yang sering terprogram dengan sensasi jeruk nipis. Sehingga berfikiran “Enak dia bahagia, aku ngenes”. Rasa ngenes atau kondisi tak nyaman lainnya itu muncul hanya difikiran. Yang sebenarnya dalam dunia nyata tidak terjadi (sensasi jeruk nipis). Karena berulang-ulang disebut dan difikir, akhirnya menjadi doa dan terwujud. Dengan ajaib suasana kita benar-benar menjadi tidak nyaman.

Jika alur dan pola kerjanya keajaiban itu serupa dengan ketidak nyamanan, alangkah lebih baiknya kita merubah mainset untuk memikirkan keajaiban-demi-keajaiban. Ubah frekuensi otak dengan kosakata-koasakata postif. Dalam islam, kita sangat dianjurkan untuk berfikiran husnudzon dalam segala hal. Semua yang terjadi adalah atas izin dan kehendak Allah. Kejadian-demi-kejadian apapun itu bentuknya merupakan perwujudan dari Allah.

Saya pribadi saat ini mencoba untuk mempraktekkan ini. Sebenarnya sudah sejak blog ini lahir 2014 silam. Dengan tagline Miracle Me-Keajaiban ku. Namun beberapa waktu terakhir, ditambah beberapa materi pendukung, saya mencoba untuk benar-benar mengeksekusinya. Hingga keajaiban tanpa syarat saya dapatkan. Hidup lebih bahagia dengan menyaksikan orang lain bahagia. Hidup lebih tentram dengan ketentraman hidup orang lain. Hati lebih adem dengan mendoakan senyum-senyum cinta untuk orang lain.

Hingga pada akhirnya kebahagiaan diri sendiri itu tidak lagi penting. Karena keajaiban hidup kita berada dikebahagiaan orang lain karena kasih kita padanya. Manusia pada dasarnya satu dan terhubung. Inilah keajaiban tanpa syarat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.