Kebahagiaan untuk si Pemalas

Hay guys, beberapa waktu ini atau mungkin selamanya, kamu akan sering menemukan kata KEBAHAGIAAN dalam room ku ini. Bukan tanpa alasan, atau sok-sokan bikin self branding (walau sebenarnya mungkin iya hehehe). Bermula pada ketertarikan aka nisi sebuah buku menarik karya anak negeri yang ku dapat secara gratisan dari salah satu teman Hafidz On The Street (HoTS) senior di Jakarta. Judul bukunya sich mengenai aqidah, tapi isinya membuat ku taka da pilihan lain untuk bahagia.

Dan karena kemarin, aku membuat tantangan di gurp #MariMenulis dengan tema MALAS, so pada tulisan ini ya korelasi antara MALAS VS BAHAGIA. Pantengin terus ya. Semoga yang baca sesemangat yang nulis juga. Ohya, jangan lupa sebelum baca bagi yang muslim/muslimah biasakan mengucap basmalah. Agar apa yang didapat bisa menjadi berkah dan manfaat.

Bismillahhirrohmanirrohim.

Baik kita mulai, antara malas dan bahagia itu ternyata tanpa kita sadari memiliki korelasi yang sangat tinggi. Mungkin lebih tinggi dari Burj Khalifah si pencakar langit asal Dubai. Kalimat barusan pasti membuat kamu mengernyitkan dahi sejenak. Apa iya segitu lebaynya?

Sebagai makhluk hidup, pasti semua ingin bahagia. Bener ga? Bahkan manusia akan berjuang bagaimanapun caranya untuk bisa bahagia. Terutama membahagiakan orang yang disayangi dan dicintainya. Orang tua akan selalu mencari cara agar anak-anaknya bahagia. Seorang anak ketika telah dewasa berganti berjuang untuk memberi kebahagiaan pada orang tua. Begitu pula dalam rumah tangga, saudara, dan lain-lain.

Fitrahnya sebuah kebahagiaan itu adalah kebutuhan primer bagi setiap manusia. Hingga ada sebuah pepatah, miskinpun tak apa asal bisa bahagia. Walau pepatah itu tak benar 100%. Namun dalam faktanya, sebuah kebahagiaan itu tidak muncul serta merta. Ada proses yang harus dilalui. Istilahnya harus ada harga yang dibayar.

Sayangnya walaupun kaya raya, atau bahkan keturunan orang terkaya sedunia yang hartanya tak akan habis dimakan 7 turunan (turunan yang ke 8 dah ga dapat bagiah hehehe) tetap belum menjamin mereka bisa merasakan BAHAGIA.

Why??? Karena bahagia itu tak ternilai harganya. Amat sangat mahal. Perlu perjuangan. Tak kana da sebuah kebahagiaan yang muncul dengan hanya ongkang-ongkang kaki. Duduk diam, bahagia datang hanya sebuah mimpi belaka. Kalaupun ada, biasanya itu hanya kebahagiaan bersifat fatamorgana.

Perjuangan terberat yang membuat KEBAHAGIAAN itu tak ternilai harganya ialah mengalahkan ego diri sendiri. Karena, perjuangan ini terkadang harus melawan fakta akan kondisi yang harus kita hadapi saat ini. Entah itu rasa cemas, galau, patah hati, hingga merasa termarginalkan. Semua harus bisa dilawan.

Oleh karena itu, si pemalas hampir-hampir tak akan bisa mendapatkan KEBAHAGIAAN. Bahkan KEBAHAGIAAN itu pasti akan enggan datang pada seorang pemalas. Melihat saja enggan apalagi datang menghampiri.

Terus siapakah para pemalas itu? Yaitu orang-orang yang masih enggan bersyukur atas segala nikmat dari Tuhannya. Akibatnya hari-hari hanya mengeluh dan mengeluh. Bangun pagi langsung uring-uringan, berprasangka jelek, cemberut, berlama-lama ditempat tidur hingga waktu dhuha pun terlewatkan. Lebih parahnya tak mau berjuang melawan syetan untuk bisa kembali mendapat Cahaya Illahi. Padahal setiap umat beragama tahu, bahwa syetan adalah musuh yang nyata baginya. Perang melawan syetan itu wajib hukumnya.

Melihat betapa berharganya sebuah KEBAHAGIAAN hingga sampai-sampai tak ternilai, oleh karena itu tak ada alasan untuk kita hanya berkutat sibuk mencari materi demi memberi kebahagiaan bagi keluarga. Dengan alasan capek seharian bekerja sampai di rumah uring-uringan. Percaya dech, sebanyak apapun harta yang kau bawa pulang tapi jika sambil uring-uringan, tak akan ada senyum BAHAGIA keluargamu kau dapatkan. Apalagi jika ditambah dengan ekstra kemalasan lainnya.

Yukz kita bangun negeri penuh KEBAHAGIAAN dimanapun berada diawali dengan diri kita sendiri. Keep positive pada segala hal, senyum, dan berjuanglah untuk terus berfikir BAHAGIA dalam kondisi apapun.

*bersambung*

******
Tenggarong –Kutai Kartanegara, berazam pada diri sendiri untuk stop kemalasan!

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.