net

Kebebasan yang Kebablasan

Sebelum memutuskan untuk menulis rangkaian huruf-huruf pada artikel ini, saya harus berfikir ekstra terlebih dahulu selama beberapa waktu lamanya. Mengingat issue yang menurut saya ini sangat-sangat sensitive dan bisa membuat tersinggung pihak-pihak lain. Namun hati saya sebagai manusia yang dhoif ilmu ini sangat ingin mengutarakan uneg-uneg ini. Di era penuh kebebasan dalam segala hal. Kebebasan yang berujung kebablasan.

Hal paling malas yang saya lakukan beberapa bulan terakhir adalah menonton tayangan tivi. Itu menjadi salah satu sebab mengapa sejak pindah rumah saya masih enggan memasang antenna maupun tivi kabel di rumah. Tivi cukup saya gunakan untuk memutar DVD dan file usb saja. Jika kangen dengan sinetron favorite tinggal sesekali nobar di tempat adik atau kakak terdekat. Itung-itung sekaligus silaturahmi.

Tayangan tivi dewasa ini banyak ditunggangi kepentingan, serta banyak tayangan bersifat sabun colek. Hampir semua stasiun tivi di Negara ini adalah milik politikus. Sehingga jangan heran kerap menjadi alat untuk saling menyerang rival atau bahkan kolega politiknya sendiri yang kurang sejalan. Umbar-mengumbar aib dan mengobok-obok kehidupan pribadi orang lain menjadi tayangan untuk mengejar retting.

Reality atau variety show apalah itu sebutannya, konon katanya artis-artis pendukungnya dibayar puluhan juta perepisode-pun isinya hanyalah lelucon pembobrokan mental. Berita criminal yang ditayangkan menurut saya begitu lebay, hingga membuat orang awam seperti saya berfikir jika Indonesia ini sudah tak aman lagi. Yang paling membuat saya tercengang lagi ialah, guru tegas terhadap muridpun saat ini bisa dikriminalkan.

What??? Saya sempat beristigfar melihat tayangan berita pada siang hari sekitar sepekan lalu. Dimana sedang berlangsung proses sidang seorang ibu guru yang melakukan pencubitan dan penyetrapan muridnya. Merasa tidak terima orangtua murid melapor ke polisi. Entah apa yang ada dipikaran orangtua tersebut. Melindungi anak, protes, dendam pribadi, memberi efek jera, atau sensasi belaka.

Maaf, sayapun seorang emak yang kelak anak saya pasti mengenyam pendidikan. Sayapun pernah bersekolah. Jika proses pendidikan “menyakiti” anak sayapun, tentu saya akan berontak. Namun yang saya pikir dengan “menyakiti” mungkin beda persepsi dengan orangtua dalam tayangan tivi tersebut. Tabbayun dan duduk bersama, hingga memindahkan anak saya ke sekolah lain. Bagi saya itu lebih bijak. Maaf sekali lagi ini bagi saya pribadi.

Karena saya pernah bersekolah dengan didikan keras ala tahun 90-an. Dan saya sangat percaya para orang hebat yang ada saat ini, dulu semua mengalami pola pendidikan “keras” dan ketat semacam itu. Cubitan, jeweran, distrap, hingga pukulan punggung tangan menggunakan penggaris atau pelunjuk dari bamboo sudah pernah saya rasakan. Jika ada yang berpendapat pola pengajaran semacam itu tidak relevan saat ini. Mungkin anda ada benarnya.

Salah satu yang membuat komentar seperti itu muncul adalah andil besar peran media. Yang mengatas namakan kebebasan berkreasi tadi. Ingat sekali saat masih mengenyam pendidikan sebagai jurnalis dulu, mengenai istilah “Badnews is a goodnews”. Itulah menurut pengajar saya mengapa diluaran sana banyak pewarta berburu berita negative sekuat tenaga mereka. Belum lagi ditambah tekanan kerja yang mengharuskan seorang pewarta mencapai target sebuah berita.

Tak jarang yang sekedar “krewe’an dadi grojokan” (hal kecil dibesar-besarkan.red). Namun sekali lagi saya tidak menjustis para pewarta. Karena yang membesarkan sayapun juga dunia jurnalistik. Pewarta “sungguhan” sebenarnya masih dibatasi dengan kode etik jurnalistik. Dimana ia tidak boleh hanya sekedar menebar issue tanpa adanya izin maupun kebenaran yang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Di era digital saat ini, dimana kebebasan berekspresi sangat diagungkan melebihi apapun, menjadi pewarta sangat mudah. Setiap orang bisa memiliki media pribadi melalui berbagai media social. Dampaknyapun sebenarnya lebih besar ketimbang media cetak dan elektronik resmi. Malah bebas sensor serta tak memiliki kode etik yang jelas. Semua bebas berkomentar dengan kata kunci “kebebasan”.

Perang kata dalam dunia digital mungkin bukan hal tabu lagi. Jangankan guru, mencaci maki orang tua, saudara, tetangga, pemerintah, hingga pemuka agamapun lengkap tersedia. Sebagai contoh kecil (namun menurut saya ini sebenarnya sudah sangat membuktikan krisis multi dimensi generasi saat ini), secara berkala satu persatu pemuka agama yang konsisten berdakwah dan memiliki nama besar menjadi korban.

Hemat saya merekam kejadian beberapa tahun silam saat saya masih kuliah. Kasus AA Gym yang berpoligami menjadi alat untuk menghacurkan kiprah sang dai yang saat itu sedang amat sangat popular. Akibat menyuarakan kritikan keras pada film-film mengumbar aurat dan syahwat, beliaupun dipukul oleh berbagai media dan khalayak yang pro “kebebasan”. Padahal hampir bersamaan salah satu dai kondangpun melakukan poligami, tak juga dihujat seperti AA Gym.

Selanjutnya issue seputar Kh Zainuddin MZ, Bang Hj Roma Irama (selain musisi beliau juga pendakwah), ustadz-ustadz mudapun tak luput dari cercaan. Keluarga besar Alm. Ustadz Jefri Al Bukhori, Ustadz Zaki Mirza, Ustadz Felix Siauw, dan lain-lain. Serta yang saat ini sedang hot adalah Ustadz Yusuf Mansyur.

Anehnya issue mengenai sedekah yang diajarkan UYM dianggap menyalahi syariat ini berkenaan pada saat beliau digadangan akan naik menjadi calon gubernur DKI. Entah suatu kesengajaan atau bukan, maaf sekali lagi ini hanya identifikasi otak saya yang dhoif ilmu ini. Dari pengalaman saya, pertama kali mengenal ilmu sedekah besar-besaran untuk berbagai hajat bukanlah dari UYM. Justru saya dapat ilmu itu dari mas Ippoh Santosa. Pengusaha, motivator, sekaligus pemrakarsa Aksi Cepat Tanggap. Hampir setiap event seminarnya peserta diajak sedekah besar-besaran.

Tapi kembali, inilah kuasa Allah Sang Maha Perkasa. Tak ada suatu kejadianpun tanpa izin Nya dapat terlaksana. Jika para nabi dahulu kala berdakwah dengan cobaan sewaktu-waktu tajamnya pedang dapat menghunus ke tubuhnya, saat ini cobaan untuk para guru dan pendakwah adalah tajamnya lidah dan media. Semua masa pasti ada cobaannya itulah janji Allah.

Namun sebagai manusia yang dikaruniai kecerdasan dan kepandaian menulis, hendaklah bijak dalam setiap mengeluarkan sapirasi dan tulisan. Karena sebaik-baiknya manusia adalah menurut hadist Rasul ialah jika manusia lain tak ada yang terluka akibat lidah dan tangannya.

Teriring doa semoga Allah melindungi dan memuliakan seluruh guru dan pendakwah di negeri ini dan seluruh dunia. Sekali lagi saya ucapkan permohonan maaf sedalamnya pada berbagai pihak yang mungkin merasa tersakiti dengan tulisan ini. Lagi-lagi ini hanyalah uneg-uneg saya. Sebagai salah satu pelaku media social, saya juga tergerak untuk menyuarakan isi hati. Demi terciptanya pendidikan dan kehidupan yang lebih baik di negeri ini.

Dulu zaman para nabi, pedang adalah senjata paling tajam untuk membunuh. Seiring berjalannya waktu muncul senjata baru “Lidah Tak Bertulang Lebih Tajam dari Pedang Apapun”. Ya dengan lidah manusia, peperangan di muka bumi dapat terjadi. Perselisihan dan kekacauan dunia terjadi. Namun saat ini “Tulisan Lebih Ganas dari Lidah”. Berhati-hatilah dalam berkarya wahai para pemegang pena.

*****
Loa Kulu – Kutai Kartanegara, dipenghujung Subuh yang mulai tersibak mentari fajar.

3 replies
  1. Faiza
    Faiza says:

    Indeed eka.. makanua berita berita macam infotainment yang membahas orang atau tokoh itu dilabel haram…kl bener dianggap ghibah kl salah dianggap fitnah.. ya kan sai? Biar aja anak2ku termasuk golongan cupu terlindung drpada update gaul kebablasan.. biar anakku kekinian dlm agama aaaaaminn

    Reply
  2. ACT.ID
    ACT.ID says:

    Benar sekali sekarang media adalah senjata, bagi kita yang tak punya tameng untuk bisa berfikir dan bijak bisa kapan saja terhasut berita, banyak kajian, sabar dan sedekah adalah kunci kita dijauhkan dari keburukan

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.