Last Night in a Dream Land

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai pengalaman dan ilmu berharga pada episode perjalananku kali ini. Malam ini, kelak akan menjadi sebuah kenangan yang menarik untuk dikilas balik. Last night in a dream land, malam terakhir menikmati langit cerah dengan berbagai kisah di Jogjakarta.

Duduk santai sembari menikmati alunan ayunan dibawah pohon cerry. Sesekali hawa dingin suasana malam Jogja sedikit mengelitik kulit. Langit cerah, binar cahaya purnama terlihat jingga. Beberapa kali senyum kecil muncul di bibirku. Kumpulan foto di ponsel cerdasku, dan sesekali teringat cuplikan adegan demi adegan kisah selama di kota gudheg ini, membuatku merasa begitu lucu.
“Lucunya diriku,” kalimat yang sangat cocok untuk menggambarkan otakku malam ini. Lebih dari 2 pekan Allah mengirimku ke tanah impian yang pernah ku ujarkan saat masih duduk di bangku SMP. Pinik sekaligus belajar. Yeesss, menikmati suasana baru, ditempat baru, dengan semua kondisi, serta orang-orang baru yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Hebatnya lagi harus survive dengan didampingi seorang babyhui. Mental dan kemampuanku sebagai a great momy benar-benar harus teruji hehehe. Yang sudah kenal babyhui ku pasti fahamkan bagaimana aktifnya dia, plus ikatan batin yang katanya masih kuat denganku. Saat aku dalam keadaan kurang  baik, dialah yang galau dan rewel heheheee.
Lebih dari 2 pekan ini, begitu banyak pelajaran dan test dadakan dari Nya. Suasana hati naik turun, teraduk-aduk hingga terasa apatis sesaatpun terjadi. Hingga puncaknya babyhui sakit dan demam hingga 39,9˚C. Mewek? sempet, putus asa? naudzubillah mindzalik, ALhamdulillah gak sampai terjadi. Ujian kegembiraan yang tiba-tiba dalam beberapa saat berubah haru biru, atau cekcok panjang dengan case yang sebenarnya kecil namun kurang tepat sudut poin of view nya sehingga terlihat besar. Complicated lah pokoknya. Dan pasti penuh sensasi.
Malam terakhir disini, ALhamdulillah aku memiliki waktu untuk bisa kilas balik, dan mencoba mengingat ilmu-ilmu yang diselipkan Allah diantara setiap kejadian. Karena aku yakin semua yang terjadi adalah perwujudan dari kekuasaan Allah. Allah lah yang memiliki hak penuh dalam setiap skenario kehidupan hambanya.
Senyum kecil muncul, manakala teringat rentetan episode yang aku merasa sangat lucu dalam ketidaksiapan menghadapi laju keadaan. Apalagi saat mengingat kondisi emosi yang tiba-tiba serasa diaduk dengan hal-hal yang menurutku belum siap ku hadapi. Tapi itulah Allah, maha berkehendak tanpa harus mempertanyakan kesiapan hambaNya.
Lucu dan menggemaskan. Rasanya ingin mencubit kedua pipi sendiri dan berkata, “Kamu itu lucuu binggiittzzzz,” heheheee.
Malam terakhir di Jogja, tanah impian sejuta kejutan. Mungkin itu tagline yang tepat untuk Jogja bagiku saat ini. Perjalanan pelajaran kehidupanku di kota ini ku akhiri dengan senyuman. Dengan kaki yang semakin kuat untuk melangkah. Dengan hati yang insyaAllah semakin kuat untuk kejutan episode selanjutnya. Ilmu sabar, iklas, dan tawadhu’ yang luar biasa selama perjalanan ini semoga bisa menjadi penambah bekal dalam episode yang lebih panjang selanjutnya. Kerenya lagi disinilah aku melahab buku Keajaiban Magnet Rezeki dengan berbagai ilmu kece baday didalamnya.
Big thanks to Allah yang memberiku episode indah ini, Propet Muhammad, dengan bersholawat menurunkan irama nafas ku, thanks untuk semua yang telah berkontribusi dalam pelajaran kehidupanku kali ini. Mas, mbak yu, ibu, bapak, adek, kakak, ustadz, ustadzah, ponakan-ponakan, sahabat lama maupun yang baru ku kenal selama di Jogja, baik di dunia online maupun offline, dan siapapun yang bertemu aku walau sekedar lewat dipinggir jalan. Kalian semua is the best for me. Tanpa kontribusi kalian semua, episode hidup ku di Jogja tak akan lengkap.
Tak ada gambaran yang lebih dari suasana hatiku saat ini selain Bahagia. Apapun yang telah ku lalui bersama kalian, akan menjadi file terindah dalam memori perjalanan hidupku. Jika selama episode ini banyak khilaf yang aku lakukan sengaja ataupun tidak, mohon maaf lahir batin. Dan akupun berjanji insyaAllah tak akan menyimpan sakit hati atau apapun itu atas saling ke khilafan diantara kita.
Esok matahari pagi, akan mengantarku kembali ke kampung halaman. Tenggarong, menantiku dengan episode baru perjalananku. Berbekal tambahan ilmu selama di Jogja, akan kukatakan pada Matahari “Hay Matahari Aku Siap Menaklukkanmu,”.

 
Bantul, 13 February 2017 jam 10.25wib dalam semilir angin malam dengqn pancaran sinar rembulan yang tiba-tiba turun hujan. Baarakalloh. . .

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.