Mak, Ingat Dosamu pada Tukang Sayur!

Sejak dini hari hujan tak kunjung reda. Udara dingin membuat sebagian orang enggan keluar rumah. Terlebih saat akhir pekan seperti ini. Namun tak berlaku pada semangat ibu-ibu. Seperti biasa, sekitar jam 8 pagi, pasukan ibu-ibu gang tempat tinggalku selalu standby menanti kehadiran sang idola mereka. Yaitu tukang sayur. Yang tak pernah absen melayani ibu-ibu dengan sabar meski terkadang sering terdzolimi.

Teringat pada sebuah segmen @Beriman_ttv beberapa hari lalu mengenai dosa yang kerap dilakukan ibu-ibu pada tukang sayur. Meski terkadang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, profesi tukang sayur adalah ladang pahala yang cukup besar. Terutama saat tanggal tua seperti saat ini. Pagi buta, mereka sudah berangkat ke pasar-pasar induk untuk membeli segala perelengkapan jualan. Tak ketinggalan seabreg pesanan para ibu langganan mereka.

Usai dagangan lengkap, mereka berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Sambil merekahkan senyum layaknya matahari pagi. Karena jarang sekali aku menemukan tukang sayur yang cemberut. Meski hampir setiap hari harus bertemu dengan ibu-ibu bawel, perhitungan, dan banyak maunya.

Dalam tayangan televisi itu inilah beberapa diantara kedzoliman ibu-ibu pada tukang sayur:

1. Pesan sayuran namun tidak jadi diambil.
Sebagai manusia biasa jika terlupa sesuatu hal lumrah adanya. Namun jika keseringan atau menyengajakan untuk lupa bukalah suatu kewajaran lagi. Berpura-pura lupa merupakan bagian dari sebuah kebohongan. Sudah pasti yang namanya bohong itu dosa.

Emak-emak terkadang dengan mudahnya pesan ini itu pada tukang sayur langgananya. Karena merasa sudah langganan lama, maka si tukang sayurpun dengan senang hati membelikan apa yang diinginkan oleh pemesan tersebut. Namun sayangnya, pada saat hari dimana pesanan tersebut dibawakan, si emak terkadang dengan entengnya lupa atau pura-pura lupa. Ada juga yang mengatakan sudah tak ingin masak itu, jadi urung untuk membelinya. Atau saat pesanan ada, si pemesan justru tak ada di rumah.

Memangsih si tukang sayur tak serta merta marah. Pasti setidaknya ada gurat kekecewaan dan berharap saat melanjutkan berkeliling ada orang yang mau membeli barang pesanan yang tercansel itu.

Inilah termasuk dosa yang mungkin dianggap remeh. Yaitu mengecewakan orang yang berusaha membantu kita. Kalau kita mau sedikit membuka hati, setiap pedangang pasti telah memiliki anggaran dana untuk belanja barang-barang yang akan dijualnya. Memutar modal untuk jual beli hari itu. Jika ada pesanan yang tidak jadi diambil dan akhirnya tidak laku, pasti akan menjadi tambahan beban bagi si tukang sayur.

2. Hutang sayuran dalam waktu yang lama, namun saat belanja ditempat lain mampu membayar chas.
Dalam sebuah hadist sahih Bukhori Muslim, dikatan berlama-lama membayar hutang bagi orang yang mampu adalah sebuah kedzoliman. Terkadang emak-emak terlena memiliki langganan sayur. Terlena ngebon dengan janji dibayar saat suami gajihan. Namun sayangnya saat suami gajihan tak semua hutang tersebut dilunasi. Padahal gaji suami mampu untuk menutup semua hutang tersebut.

Alasan yang kerap muncul adalah dana gaji harus berbagi dengan berbagai keperluan lainnya. Salah satunya belanja dan jalan-jalan ke mall. Memberikan kesenangan pada keluarga itu memang suatu hal penting. Namun mendulukan hak orang lain atas hutang kita saat kita mampu itu juga lebih dari penting.

Coba bayangin jika setiap bulan selalu ada sisa hutang yang tergantung, sama halnya si tukang sayur hanya kerja social setiap hari memenuhi kebutuhan pelanggannya. Karena keuntungan sedikit demi sedikit yang ia harapkan dari barang dagangannya hanya menjadi rentetan tulisan yang entah kapan akan dilunasi. Terkecuali jika si pelanggan yang berhutang memang dalam kondisi yang sedang minus sehingga belum mampu membayar seluruh hutangnya.

3. Menawar dengan tidak wajar.

Saat berbelanja di tukang sayur, dalam kerumunan emak-emak, pasti kita pernah mendengar proses tawar menawar yang alot. Hingga terkadang si penawar mengeluarkan kata-kata :
“Biasanya harganya Cuma segini, kenapa sekarang segitu, penjualnya mau naik haji ni makanya dimahalin,”
“Mahal amat bang, tukang sayur lain aja lebih murah,”
Atau “kan kita sudah langganan, kasih murah dong,”
Dan lain sebagainya.

Ingat deh mak, dari beberapa perkataan diatas, rata-rata mengandung kebohongan agar bisa mendapat harga murah. Karena jika di tempat lain lebih murah, kenapa tidak beli disana. Namun masih tetap menawar sekuat tenaga pada langganan emak?

Terus mengatakan jika yang jualan mahal itu adalah orang yang mau naik haji. Hallooww emak, , , naik haji itu panggilan dari Allah, jika sudah dapat panggilan untuk menjadi tamu Nya, buat apa mahal-mahali jualan. Itu namanya emak su’udzon pada tukang sayur. Dan su’udzon itu termasuk dosa.

4. Selalu ingin dilayani lebih dulu.

Emak, pernah tidak berkerumul saat tudang sayur datang dan maksa ingin cepat dihitungkan jumlah belanjaannya? Atau mungkin setiap hari menjumpai yang begitu. Saya sendiri adalah tipe yang malas nunggu giliran seperti itu. Karena hampir setiap saya antri, berujung sakit hati karena diserobot emak-emak lainnya yang ingin cepat karena dengan berbagai alasan. Dan lebihnya lagi, saya adalah orang yang malas berdebat meski diserobot tapi Cuma bisa nyengir dan nyesek dihati.

Alhasil sayapun memilih menunggu dengan sabar si tukang sayur lewat depan rumah baru saya stop ketimbang ikut berkerumun dengan alsan takut sayur yang diinginkan habis duluan.

Sikap selalu ingin dilayani terlebih dulu, sebenarnya merupakan bad attitude. Selain dilarang agama dan jelas tertuang dalam QS Az Zumar ayat 10, juga melanggar budaya antri. Padahal orang-orang yang tak beragama pun diluaran sama sejak dulu kala sudah gencar mengkampanyekan budaya antri ini. Selain untuk ketertiban dan kesopanan, budaya antri juga akan melatih diri untuk bersabar.

Sehingga tercipta keikhlasan, toleransi, dan husnudzon antara penjual dan pembeli. Si pedagang akan semakin senang hati saat melayani tanpa ada paksaan dari para pembeli yang berebut ingin didulukan.

5. Meminta dan memilih bonus belanja sendiri.

Naaahhh, inilah salah satu kesukaan emak-emak. Mendapat bonus saat belanja. Terlebih jika dirasa belanjanya cukup banyak. Namun sayangnya tak jarang emak-emak yang belanjanya tak seberapa juga memaksa meminta bonus. Belum lagi si penjual sayur mengiyakan, si emak sudah duluan memilih dan mengambil bonus yang diinginkannya. Tanpa mau tahu si penjual iklas atau tidak.

Lagi-lagi dengan dalih “Kan hanya sayuran begini saja yang jadi bonus, tak papalah buat tukang sayur.”
Aduh emak, sekecil dan semurah apapun, jika tanpa keiklasan dari orang yang kita paksa memberi, akibatnya jadi mudhorod. Sebanding dengan memakan barang curian. Naudzubillah mindzaliq.

Yukz mak kita buka mata dan hati untuk lebih peka kepada salah satu orang yang setiap terhadap kita. Yaitu para tukang sayur. Tidak ada larangan kita berhutang, meminta dilayani cepat, atau meminta bonus dan factor kepepet lainnya. Namun dengan batasan-batasan serta jangan keseringan. Mari menjadi emak yang bijak untuk generasi kita selanjutnya (maksudnya biar anak-anak perempuan kita juga meniru hal-hal yang baik jika kelak mereka jadi emak-emak juga). Keep kalemers ya mak, , ,

****
Loa Kulu – Kutai Kartanegara, saat menunggu tukang sayur tak kunjung datang.

6 replies
  1. arsa
    arsa says:

    Hihihi… Saya juga paling males, kalo pas beli sesuatu trus ada ibu2 yg nyerobot antrian. Ditegur itu ntar dibilang kurang ajar sama yg lebih tua, dibiarin kok ya situ gak sadar kalo yg lebih tua harusnya memberi contoh yg baik. Capek deh hehehe

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.