Matahari di Jogjakarta

Sebuah obsesi masa remaja, kalimat lucu yang terbersit jika mengatakan tentang Jogjakarta. Sebagai fans fanatik Sheila on 7, ketika masa SMP membuat saya tergila-gila dengan daerah ini. Inilah sebuah kisah Matahari di Jogjakarta.

Pagi pertama di Jogja, matahari masih terasa sayu. Mungkin dia malu padaku, karena baru pertama bertemu heheheee. Setelah lebih dari 2 windu obsesi ini akhirnyq tercapai juga. Menyapa matahari di Jogja.

Semasa remaja, keinginan untuk bisa meneruskan pendidikan dan menetap di kota gudeg, bak sebuah mimpi yang entah kapan bisa terwujud. Keinginan yang sebenarnya alasan utama hanya karena penasaran pada mas Duta, mas Eros, mas Sakti, mas Adam, dan mas Antoh heheheee. Hingga akhirnya harus ikhlas jika Allah mengirimku belajar justru ke Borneo.

Hari ini, perjumpaan matahari di Jogja akhirnya terwujud. Walau sebenarnya sudah lama obsesi ini terkubur dan tak pernah terbersit untuk berharap lagi. Hari ini, aku benar-benar menyapa matahari di Jogja.

Matahari pertama di hari Kamis 26 Januari 2017. Disinilah sebuah asa panjang alam rangkaian kisahku akan bermula. Cerita panjang yang kelak akan ku ceritakan pada dunia. Perjalanan jutaan kilometer yang aku sendiri belum juga memahami alur kisah yang ditakdirkan Allah bagiku.

Matahari di Jogja, hari kedua. Mengawali sebuah komitmen dengan terus menatap kegagahan sang surya. Berdiri kokoh dalam pijakan untuk tak lagi mengeluh. Membuka segala tabir kehidupan, satu persatu. Menggenggam erat semua asa dan harapan.

Sebuah kisah yang baru kusadari betapa keren nya Allah mengirimku kesini. Sebuah tugas besar menanti. Inilah awal sebuah komitmen. Bersiap mengemban amanah dari Nya.

Matahari, aku terima tantanganmu. Tak akan ku mengeluh dengan garangnya terikmu. Hingga kamu lelah untuk menaklukkan ku. Dan Allah menyatakan purna tugasku disini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.