Mendadak Banjir Ikan

Sebulan terakhir, permukaan rata-rata air Sungai Mahakam sedang pada titik yang cukup tinggi. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai musim pasang. Yaitu siklus pasang tahunan yang pasti terjadi pada sekitar pertengahan tahun. Pada musim pasang ini, merupakan syurga bagi para penghobi mancing mania. Tak jarang yang mendapat ikan dalam ukuran jumbo hingga puluhan kilogram. Pagi ini, puluhan pemancing sedang ketiban rejeki. Mereka menyebutnya banjir ikan.

Namun banjir ikan kali ini bukanlah karena terjadi kenaikan PH air sungai yang menyebabkan ikan-ikan didasar mabuk dan naik kepermukaan. Usut punya usut ternyata dini hari (29/5) sebuah ponton batu bara yang sedang diseret kapal tag boat menuju hilir terseret air pasang menepi. Akibatnya, kapal besi berukuran seluas lapangan bola tersebut menghantam keramba ikan milik warga.

Sebagian besar keramba yang terbuat dari rangkaian kayu ulin dan setiap kotak berisikan ribuan ikan siap panen itu pecah berhamburan. Para ikan pun bebas dari sarangnya (eehh kok kayak burung pakai sarang hehehe). Kabar inilah yang mengundang para lelaki perkasa pecinta mancing mania dari berbagai kampung berduyun-duyun membawa berbagai alat pancingnya untuk berburu hartakarun (jangan tegang bacanya ya, mulai alay saya hehehe).

Selain alat pancing, mereka juga menggunakan “ancau” semacam jarring segi empat yang ujung-ujungnya diikatkan pada bamboo, kemudian pada lengkung atas bambu tersebut di ikatkan pada kayu berukuran agak besar sebagai pengangkat jaring. Atau jika sulit membayangkan sila lihat foto dibawah ini.

IMG_20160529_104916

Peristiwa mendadak banjir ikan akibat terjangan ponton semacam ini bukanlah hal baru. Hampir setiap musim pasang pasti terjadi. Namun apakah si pemilik budidayaan ikan tidak rugi? Secara saat ini bibit dan pakan ikan makin melambung harganya. Belum lagi resiko kematian akibat perubahan asam air Mahakam yang sewaktu-waktu terjadi. Namun kenapa mereka masih saja mempertaruhkan usaha seperti itu?

Kalau kita fikir secara mata awam, tentu akan merugi sekali. Tapi justru bagi si pemilik keramba akan menjadi keuntungan besar. Pernah saya berbincang dengan salah satu kolega ayah saya yang dulu pernah bekerja pada pengusaha budidaya ikan. Menurutnya saat musim pasang dan air menjadi asam, banyak ikan yang tewas sebelum masa panen. Sehingga saat terjadi “kecelakaan” semacam itu, mereka akan panen raya.

Bahkan jika saat kejadian ada pegawai yang berjaga, sebelum petugas ponton merapat dan memeriksa, mereka dengan sengaja akan merusakkan lebih banyak keramba yang masih tersisa. Kemudian saat hitung-hitungan antara pemilik ponton dan pemilik keramba ikan, maka akan terjadi permainan kembali. Jumlah ikan yang dilaporkan hilang akan menjadi berpuluh atau ratusan kali lipat. Pun dengan jumlah keramba yang hancur dan hanyut. Jumlahnya pun akan bertambah.

Karena sulit dilakukan pembuktian taka da pilihan lain untuk para pemilik ponton selain membayar sesuai perhitungan yang ada. Jika tidak dibayar, sudah pasti buntu perkaranya akan panjang. Memang kita tidak bisa langsung menganggap apa yang dilakukan para pemilik keramba itu sebagai sebuah kriminalias atau penipuan.

Lalu lalang si besi besar yang mengangkut ribuan metric ton batu bara setiap saat itu, banyak merusak kondisi kestabilan air di Mahakam. Meski terlihat di permukaan sungai saat ponton-ponton itu lewat air sungai tak ada gejilak yang berarti, namun pada kedalaman puluhan meter dibawah terjadi pergolakan air yang cukup besar. Akibatnya terjadi abrasi di sepanjang bibir sungai. Pun merusak ketenangan ikan-ikan budidaya. Terutama saat musim air surut.

Olehkarena itu, saat terjadi “kecelakaan” semacam ini, sudah sewajarnya pemilik ponton batu bara memberikan ganti untung yang besar.

****
Loa Kulu-Kutai Kartanegara, yuk cari ikan )

6 replies
  1. arsa
    arsa says:

    Prihatin sekali melihat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh industri batu bara ini. Tapi kabarnya kan industri batu bara sedang mengalami kemerosotan akhir2 ini dan banyak di antaranya yg gulung tikar. Di tempat Jeng Eka bagimana? Masih banyak yg beroperasi?

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.