Misteri Rumah Sakit Lama

Malam sudah sangat larut dan suasana kota gelap gulita, efek pemadaman akibat salah satu gardu listrik yang tersambar petir petang tadi. Amran bersama Antok sang adik dan Yulia istrinya setelah melalui perjalanan selama 5 jam akhirnya sampai juga di kota Tenggarong. Dalam gelapnya malam minim penerangan jalan, Antok memacu mobilnya selaju mungkin menuju Rumah Sakit AM Parikesit.

Yulia dirujuk setelah mendapat penanganan Puskesmas daerah Hulu Mahakam dan harus segera mendapat penanganan medis serius. Usia kandungan Yulia yang telah melewati sepuluh bulan, serta kondisi tekanan darah yang cukup tinggi menurut dokter Puskesmas sangat rawan terjadi pendarahan hebat saat proses kelahiran. Itulah sebabnya sejak terjadi pertanda kelahiran dengan pecah ketuban, Yulia terpaksa harus berjuang bertahan dalam perjalanan yang cukup panjang.

Suasana benar-benar gelap, hingga rambu-rambu lalu lintas dan petunjuk jalanpun tak terlihat. Lampu mobil hanya mampu menyibak gelapnya jalan. Beruntung Antok cukup hafal peta Tenggarong. Sehingga tak terlalu sulit baginya mencari lokasi yang dituju.

Memasuki gerbang rumah sakit, suasana masih terlihat gelap. Sejurus Amran melihat sebuah baliho besar tepat di atas gerbang masuk. Namun sayang ia tak mampu membaca satu hurufpun tanpa penerangan. Antok terus melaju menuju depan pintu UGD. Bersyukur suasana UGD ramai meski terlihat menggunakan penerangan seadanya. Terlihat dari bola lampu sekitar yang redup.

Yulia langsung dinaikkan diatas ranjang khusus pasien, ketika Amran mendatangi petugas reseptionis untuk menyerahkan surat rujukan. Ketika Antok kembali ke mobil untuk segera memindahkan kendaraannya ke area parker, seorang pria berbaju perawat mengisyaratkan untuk tidak melakukannya.

“Parkir penuh, biar saja mobil ini disini,” ujar pria berbaju perawat itu.

Meski agak bingung, namun Antok tetap menurutinya. Ia pun kembali pada kakak dan kakak iparnya yang sedang menunggu proses pendaftaran selesai dan dipindahkan ke ruang bersalin. Kedua lelaki muda itu menunggu sambil menahan kantuk tak terhingga. Sampai-sampai saat perawat mulai mendorong ranjang Yulia menuju tempat bersalin di Ruang Tulip, ke duanya hanya mampu mengikuti di belakang layaknya orang yang sedang mengigau sambil berjalan.

Merekapun akhirnya memilih duduk di bangku luar ruangan yang berada di sisi taman. Tepatnya di pintu belakang ruang bersalin. Entah berapa lama mereka menunggu, tak satupun yang mengingat pasti. Udara dingin disertai pekatnya embun sesekali membuat bulu kudu mereka terasa merinding. Maklum mitos sebuah rumah sakit pastilah tak jauh dari cerita horror.

Beberapa kali Antok menguap lebar, tanda ia mulai tak kuasa menahan berat kelopak matanya. Beruntung masih ada air mineral di tas gendongnya. Bisa digunakan untuk membasuh muka, fikirnya. Meski malam sudah sangat larut, masih ada saja orang duduk-duduk di sekitar ruang-ruang perawatan dan juga kursi taman. Inilah yang membuat keduanya tak begitu khawatir.

Sejurus terdengar pintu ruang bersalin terbuka, seorang perawat berambut sebahu keluar. Sayangnya kedua pria itu tak bisa melihat jelas wajah perempuan yang mengenakan rok selutut itu.

“Bayi anda sudah lahir, sekarang sedang istirahat,” ucap perawat tersebut

Wajah merekapun sumringah, namun sayangnya karena ibu dan bayi sedang istirahat, menurut perawat tersebut belum diperkenankan untuk di tengok. Meski Amran sedikit heran, karena dokter Puskesmas di kampungnya merujuk ke RSUD ini untuk bisa melakukan operasi cessar. Nyatanya tak perlu masuk ruang operasi, dan istri beserta bayinya selamat.

Merasa semakin hebat kantuk yang mendera, Antok berinisiatif mengajak kakaknya untuk ngopi ke kantin dekat area parker depan gedung utama. Amranpun mengangguk tanda setuju. Kali ini perjalanan mereka ke kantin terasa begitu beda. Jika sebelumnya masih terlihat orang duduk-duduk sepanjang koridor, serta bangku-bangku taman. Saat ini justru amat sangat sepi. Bahkan lampu-lampu ruang perawatan yang mereka lalui mati total. Hanya lampu-lampu teras seadanya.

“Mungkin sudah pada tidur semua,” ucap Amran lirih. Sesekali menengok kembali kebelakang, samping kiri, kanan, benar-benar sunyi. Bahkan bulu kudupun sempat berdiri. Bak masuk kesebuah lorong misteri gedung tua tak berpenghuni.

“Pak-pak, maaf ada apaya malam-malam kesini?” sergap seorang security wakar yang sempat beberapa saat mengawasi kedua pria itu menyusuri koridor.

“Mau ngopi ke kantin pak,” jawab Amran.

Terlihat wajah si wakar yang tak percaya jawaban Amran. Dengan penuh curiga wakar yang bertugas setiap malam menjaga gedung bangunan rumah sakit sejak dikosongkan awal tahun lalu itu, terus mencerca pertanyaan. Kalau-kalau kedua pria itu berniat tidak baik di area gedung tua itu.

“Istri saya baru saja melahirkan di ruang Tulip 2 pak,” ucap Amran meyakinkan kembali, saat menyedari jika si wakar mulai ada gelagat mencurigai mereka.

Mendengar jawaban demi jawaban Amran, saat ini justru si Wakar terbelalak. Ia segera mengontak temanya yang berada di pos security melalui radio ditangannya. Sejurus mereka bersama-sama menuju ruang yang ditunjukkan Amran sebagai tempat melahirkan sang istri.

Belum juga sampai, terdengar suara perempuan menangis teriak-teriak minta tolong. Amran sangat hafal itu adalah suara istrinya. Merekapun segera berlari sekuat tenaga menuju Tulip 2. Merekpun tercengang melihat perempuan bersimbah darah di teras ruang perawatan, dan seorang bayi yang sedang menangis persis di bibir selokan kecil tak jauh dari sang ibu.

*****
Suara sirine ambulance memasuki halaman gedung rumah sakit lama. Dengan sigap empat perawat mengevakuasi Yulia beserta bayinya. Seluruh lampu sekitar ruang Tulip dinyalakan. Sesekali perawat menyisir area sekitar ditemukannya ibu dan bayi tersebut. Salah satu dari mereka pun berpesan pada security yang bertugas untuk terus mencari.

Amran dan Antok yang masih shock berat terpaksa mendapat penanganan medis pula di gedung rumah sakit baru. Seperti mimpi buruk. Itulah yang mereka katakan setiap kali mencoba menuturkan kembali pengalaman baru sekejap mereka rasakan. Siapa dokter, perawat, petugas rumah sakit lainnya, serta sesama pasien, atau orang-orang yang tadi duduk di depan-depan ruang perawatan.

*****
Dua hari berselang, Amran baru dapat menemui istri dan bayinya. Dokter mengatakan jika Yulia kehilangan banyak darah dan tidak seharusnya melahirkan normal. Kini ia harus mendapat perawatan intensif dan transfusi darah hingga 6 kantung. Bersyukur ibu dan bayi masih bisa diselamatkan. Namun dokter juga memberitahukan jika sejak kejadian hingga dua hari terakhir petugas yang menyisir rumah sakit lama tidak bisa menemukan ari-ari si jabang bayi.

Entah siapa yang telah mengambilnya. Para petugas medis tidak berani berspekulasi tentang dunia mistis atau makhluk yang tidak bisa diterangkan secara ilmiah.

Berbekal rasa penasaran, usai makan siang, Amran dan Antok sepakat untuk mendatangi kembali lokasi rumah sakit lama. Jaraknya cukup jauh sekitar 5 KM dari gedung baru. Betul saja, di gerbang utama arah masuk terbentang baliho besar ukuran 4×5 tertuliskan jika rumah sakit telah pindah dan gedung telah dikosongkan terhitung 31 Desember 2015.

*****
Cerita ini disadur dari kisah yang berkembang dari mulut kemulut sejak beberapa bulan terakhir. Dengan nama-nama tokoh yang disamarkan. Saya mendapat cerita ini awalnya dari seorang penjual rujak lontong depan kantor BPJS yang terletak tepat di seberang area parker gedung rumah sakit lama. Selidik berselidik ke beberapa kenalan, ternyata merekapun telah mendengar kisah ini. Sayangnya saat saya ingin masuk ke area gedung lama ini, pos security kosong, tak terlihatpun penjaga siang itu. Alhamdulillah karena bulukudu berdiri, sayapun balik kanan graaakkkk, , , , ,!!!!

********
Tenggarong _Kutai Kartanegara, benarkah mitos setiap rumah sakit itu berpenghuni makhluk astral???

5 replies
  1. Eko Suseno
    Eko Suseno says:

    Mitos di rumah sakit, sepertinya di setiap RS punya cerita mistis. Termasuk di RS tempat saya kerja. Kawan2 sering cerita macem2. Tapi saya sendiri selama ini alhamdulillah gak sampe nemu hal-hal aneh. Hihi..
    #blogwalkingan
    tinulis(dot)com

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.