Para Pemilik Mahkota Cahaya

“Barang siapa mengamalkan Al Quran (menghafalnya) maka ia akan memberikan mahkota cahaya untuk kedua orang tuanya.”

***
Cuplikan tausiah seorang ustadzah dihadapan beberapa orang anak didiknya dalan trailer film “Surga Menanti”. Film persembahan Syech Ali Jaber ini rencananya akan tayang pada 2 Juni 2016 mendatang.

Kebetulan siang kemarin (20/5) mendapat postingan video di grup whatsup. Meski hanya potongan kecil yang berdurasi tak lebih dari 2 menit, cukup membuat hati ini bergetar. Seperti saat mendengar cuplikan dialog diatas yang diambil dari sebuah hadist sahih.

Siapa makhluk di dunia ini yang tidak ingin masuk syurga?. Begitu indah penggambaran keadaan di syurga dalam setiap kitab suci berbagai agama. Terutama apada Al Quran Al Karim. Sebagai contoh QS Al Waqiah (56:27-40) menggambarkan betapa beruntung orang yang berada disana (syurga.red) dan kondisi yang amat indah. Subhannallah.

Belum lagi jika ditambah dengan memiliki mahkota cahaya kemulyaan. Yang pasti tak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Tak juga dapat dibeli dengan harta dan kedudukan.

Dia (mahkota cahaya.red) hanya bisa diberikan oleh anak-anak penghafal Al Quran kepada kedua orang tuanya. Hadiah terindah untuk orang tua. Tak bisa dicuri atau diklaim oleh siapapun. Duh, Ya Rabb baru mendengarkan kisah tentangnya saja sudah merinding. Bagaimana jika salah satu diantara anakku kelak memberikan mahkota itu padaku?

Air mata inipun menetes dengan sendirinya. Setiap orang tua pasti menginginkan memiliki anak yang berbakti hingga di akhirat. Terlebih jika mampu memberi mahkota cahaya itu pada mereka. Namun sebuah hukum timbal balik berlaku.

“Jika aku ingin mendapat mahkota cahaya dari anak keturunanku, apakah aku juga telah berusaha memberikannya pada ibu-bapakku?”

Sebagai rule mode bagi anak-anak, apakah kita sudah berlaku adil pada orang tua?

Anak-anak yang memuliakan orang tuanya, terlahir dari orang tua yang juga memuliakan ibu-bapaknya. Mungkin orang tuaku bukan dari lingkungan agamis yang mewajibkan anak-anaknya menghafal Kalamullah. Namun mereka juga telah mengupayakan pendidikanku sedemikian rupa hingga mengenal Al Quran. Mereka pun memiliki hak untuk mendapat Mahkota Cahaya itu.

“Menghafal Al Quran itu berat, bisa bikin kita gila?” ucap seseorang padaku saat aku utarakan keinginan untuk serius kembali belajar agama.
“Ya memang berat, tapi lebih berat lagi hidup tanpa cahaya Illahi,” itulah kata-kata dari seorang ustadz kondang salah satu tempat aku mencari ilmu. Berjuang menghafal Al Quran itu tak harus sekali duduk hafal 6 ribuan ayat. Rasulullah saja diberi waktu oleh Allah sekitar 22 tahun lebih.

Sedangkan jika kita sehari hanya menghafal satu ayat saja, maka hanya diperlukan 17 tahun untuk menghafal seluruhnya beserta kandungan dan nomor ayat.

Ini masih belum sebanding dengan perjuangan ibu dan bapak sejak kita dalam kandungan hingga kita mendapat serentetan title aneka perguruan tinggi. Tak sebanding dengan darah dan pertarungan nyawa ibu saat melahirkan kita. Ibu dan bapak memikirkan masa depan kita sepanjang waktu. Tapi apa kita pernah memikirkan masa depan beliau dia khirat kelak?

Tulisan ini, adalah sebuah pengingat untuk diriku sendiri yang begitu menggebu ingin memiliki anak-anak penghafal Al Quran. Yang harus berbanding lurus dengan upayaku untuk bisa memberikan Mahkota Cahaya untuk orang tuaku.

Orang tuaku pun memiliki hak untuk mendapat syurga dariku. Jika beliau telah terjamin syurganya, barulah aku memiliki hak yang sama dari anak-keturunanku.

Ya Rabb, jika para tuna netra saja bisa menghafal Kalam Mu dengan begitu fasih pun makna dan asbabul nuzulnya, mengapa diri ini yang engkau karuniakan mata masih sangat sehat terasa berat membacanya. Ridhoilah kami dan seluruh keturunan kami menjadi penghafal, pengamal, dan pengajar Al Quran Mu.
Ridhoilah para orang tua kami untuk menjadi Pemilik Mahkota Cahaya Kemulyaan di Syurga kelak.
Dan jadikan Al Quran sebagai perhiasan terindah di rumah-rumah kami. Dan jadikan dia sebagai teman sejati kami di alam kubur nanti.

***
Loa Kulu- Kutai Kartanegara, menata hidup lebih bermakna untuk masa depan orang tua.

22 replies
  1. arsa
    arsa says:

    Subhahanallah, mulia sekali cita-citanya Mbak Eka. Semoga bisa tercapai.
    Aku tergelitik dg salah satu ucapan di atas “menghafal Al-Qur’an sangat berat, bisa bikin gila”. Memang berat, tp saya belum pernah tahu ada hafidzh yg gila. Aneh-aneh aja hehehehe…
    Btw di paragraf ke sekian ada kata yg salah ketik, harusnya role-model, tp tertulis rule-model. Afwan

    Reply
  2. ade zezen
    ade zezen says:

    Kerreeeen mbak eka deffa, sangat inspiratif dan mebangkitkan semangat para pengahafal quran. Semoga cita2 kita semua hafal 30 juz tercapai sebelum ajal menjemput. Aamiin.

    Reply
    • Eka Deffa
      Eka Deffa says:

      Alhamdulillah ustadz Ade datang juga, , , di artikel Mengulas Senyum Syurga ada ustadz Ade sedang ngajar master di Darul falah :))

      Reply
  3. supry
    supry says:

    Semoga kita & keluarga bisa hafal dan mengamalkan Al Quran
    Terimakasih mbak eka sudah mengingatkan untuk kembali membersamai Al Quan

    Sukses mbak eka&dede regan

    Reply
  4. suratmi alhafidzoh
    suratmi alhafidzoh says:

    Alhamdulillah semoga apa yg dicita2kan mba eka dan semua yg menuju kesana dimudahkan jalan nya sell dijaga hafalan sama Allah aamiin ys robbal alamin

    Reply
  5. Fahrizal Mukhdar
    Fahrizal Mukhdar says:

    Mari kita sebagai orangtua terus berusaha menjadi lebih baik dari segi agama dan keimanan, sehingga otomatis akan menular pada anak cucu kita selanjutnya. Sebab pendidikan terbaik bukannya di sekolah elit, tapi di pelukan keluarga yang peduli akan anak2nya …

    Reply
  6. Bunda
    Bunda says:

    Iya, menghapal quran bukan hal yang mudah. Bahkan kalau baca pengalaman Orang tuanya Musa dalam mendidiknya saja,benar-benar perjuangan. Semoga kita diberi kemudahan tahfiz quran.

    Reply
    • Eka Deffa
      Eka Deffa says:

      yes, untuk menggapai syurga Nya memang tak mudah bund, tapi bukan berati tak mungkin, , ,semangat berjuang, , , ,

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.