Sebuah Pelukan Diujung Mimpi

Saat malam berselimut gelap,
Bunga-bunga mimpi mulai mereka,
Jiwa-jiwa yang telah lelah berjibaku dalam perjuangan siang,
Berharap badan bisa bersandar pada hangatnya pembaringan.

Sayu mata mulai terbenam dan tak kuasa lagi terjaga,
Sembari mengucap doa untuk bergegas terpejam dalam buaian malam,
Hampir tak terdengar lagi suara tetesan hujan yang sedari sore setia mengguyur bumi,
Tak juga terdengar lagi nyanyian kodok yang bersuka cita atas air yang melimpah.

Aaahhh mungkin ia lelah, pikirku,
Kodok bernyanyi riang setiap hujan datang, bak seorang kekasih yang begitu bahagia bertemu pujaan hatinya.
Sudahlah memikirkan kodok, bisa membuatku baper kembali,
Mencoba terpejam kembali.

Termenung sendiri, entah tepat apa harus ku sebut ini,
Ditepi jalan dengan taman indah,
Ya aku ingat, pada salah satu taman di film Doraemon,
Taman pinggir kota dengan suasana musim gugur.

Suasana yang romantic dan indah,
Pepohonan tinggi dengan daun-daun mulai menguning dan berguguran,
Beberapa anak kecil asik bermain disudut lain,
Sesekali sepasang kekasih ku lihat melintas didepanku,
Mengulas senyum sebagai tanda mengucap permisi.

Kembali anganku menerawang ke langit,
Hingga lamunan terjaga dengan sentuhan kecil dibahu kananku,

Hai, apa kabar?
Tanya mu padaku saat kedua mata ini menangkap wajahmu,
Senyum kecil itu, wajah yang teduh, dan mata yang berbinar selalu,
Ya itu kau, aku mengenalimu, dan itu memang kau.

Mencoba merangkai kata, namun selalu buyar saat akan terucap,
Keteduhan wajahmu dan binar matamu membuat ku tak berdaya,
Sesekali kau menanyakan tentang keadaanku,
Dan kitapun larut pada bincang panjang akan kisah masing-masing.

Kita yang mungkin saling memiliki rindu, namun terpisah jarak dan waktu,
Kita yang mungkin adalah satu, namun entah kapan dapat menyatu,
Tuhan lah yang kuasa atas diri kita,
Maha Tau kapan waktu itu akan tiba,
Hanya pinta dalam doa yang mungkin dia dan aku sama-sama panjatkan, agar kelak kami dipersatukan.

Butir air mata tak kuasa ku tahan,
Hingga kusadari pelukan erat serasa tak ingin melepasmu kembali,
“Bersabarlah!!” sebuah kata yang keluar dari bibirmu,
Tanpa engkau membalas pelukan eratku,
Sesekali engkau mengelus kepalaku,

Suara nyaring itu kembali datang,
Mataku pun meraba sekitar, mencari sumber suara,
Subhanallah, pukul 3 dini hari, alarm mengingatkanku untu segera datang pada Rabbku,
Dan kau yang entah dimana berada kini, ku yakin, pada sepertiga malam yang teduh inipun sedang berkhalwat pada Rabbmu.

*****
Loa Kulu-Kutai Kartanegara, mimpi oh mimpi, andai ia tahu #apasih?

6 replies
  1. Faiza
    Faiza says:

    Speechless..got a butterfly in my stomach reading this..i know exactly this feeling.. semangat ya eka.. insyaAllah cepeett sekedipan mata ketemu pundak lagi aaamiim

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.