Ukhti Sudikah Engkau Dimadu?

Sebelum menulis artikel ini, saya terlebih dulu harus berfikir panjang, kali lebar, kali tinggi. Dan berdoa agar tidak ada pihak-pihak yang tersakiti. Issue ini memang bukanlah hal baru di dunia. Tapi entah mengapa hingga saat ini masih menjadi hal tabu di masyarakat. Bahkan dianggap lebih tabu dari memakan barang haram didepan umum yang jelas-jelas dilarang agama.

Untuk itu, siapapun yang terlibat dalam tulisan saya kali ini, mohon berfikir jernih. Perbedaan pendapat hal biasa, semoga menjadikan kita semakin erat dalam ukhuwah.

Berawal dari sebuah percakapan saya dengan seseorang beberapa hari belakangan ini tentang rencananya ingin berpoligami, hingga sebuah pesan testimony di grup kajian bersama Ustadz Nasrullah, dimana seorang perempuan muda yang curhat jika ia selama ini merasa dholim karena tidak mampu membahagiakan suaminya lahir batin. Hingga ia ingin suaminya menikahi sahabat karibnya agar ia dan sahabatnya tersebut dapat menjadi saudara selamanya.

Perbincangan seputar poligami inipun terus berlanjut diantara saya dan beberapa teman di grup akhwat. Dari yang awalnya jajak pendapat japri hingga di grup terbuka. Puncaknya saat membaca kalimat nyeletuk dari salah satu rekan akhwat yang kaget membaca info wisuda akbar yang tertera tulisan “Boleh membawa keempat istrinya sekaligus”.

Sontak menjadi bahasan hangat, dan saya beranikan diri untuk menulis artikel ini. Namun sekali lagi mohon maaf, semoga tidak ada yang tersakiti dengan tulisan saya kali ini. Jikapun para akhwat ada saling beda pendapat mohon untuk tidak saling perang dalil. Karena jelas Al Quran dan Sunnah memperbolehkan poligami bagi yang mampu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Dari beberapa tanya jawab yang saya hasilkan, berikut jawaban beragam yang menurut saya mewakili banyaknya jawaban para ukhti sekalian.

UKHTI SUDIKAH ENGKAU DIMADU?

Ukhti A :
– saya tidak ikhlas , tapi jika suami meminta ya harus
– Saya belum mau, tapi jika suami meminta harus
– Saya belum yakin, tapi jika suami meminta harus
Ukhti B :
Kita Kembalikan ke hukumnya, Hukum menikah itu sunnah. Untuk poligami itu mubah, walau erat hubungannya namun 2 kasus yang berbeda.

Ukhti C :
Bagaimanapun kondisinya poligami akan membuat istri pertama berdarah-darah, mending hindari.

Ukhti D:
Saya setuju dipoligami jika memang saya tidak mampu melaksanakan tugas sebagai istri dengan baik.

Ukhti F:
Apapun alasannya saya tidak bisa terima.

Ukhti G:
Baik istri pertama mapun kedua akan sama-sama sakit hati jika tanpa ada keterbukaan dan jalinan silaturahmi yang baik, lebih bagus menghindari daripada menimbulkan masalah nantinya.

Ukhti H:
Ridho insyaallah.

Ukhti I:
Mungkin akan jadi pertentangan batin dan latihan kesabaran yang luar biasa namun belum yakin saya sanggup.

Ukhti J:
Mending pisah saja dech mbak.

***
Dari beberapa jawaban sebagai perwakilan tersebut, setidaknya mewakili perasaan kaum hawa. Terlepas apapun kondisinya, masih ada sisi berat dari seorang perempuan untuk memiliki madu. Baik, saya mencoba membua ruang diskusi terbuka pada tulisan ini. Mari sumbang pandangan anda baik ikhwan maupun akhwat tentang pola pernikahan yang konon juga merupakan tradisi di Negara kita ini.

Lagi-lagi saya harapkan apapun perbedaan pandangannya, tetaplah bersatu dalam ukhuwah dan saling mengingatkan jika terjadi miskomunikasi.

Saya tunggu komen-komennya. . . . . :*

21 replies
  1. Kak_Oi
    Kak_Oi says:

    Berhubung belum pernah menikah maaf kalo jawabannya agak2 ya mba 🙂
    Seseorang yang akan melakukan poligami jelas memiliki alasan kuat. Jika suami yg meminta, sebagai istri bisa membicarakan baik-baik dan mode “netral serta open mind.”
    Utarakan apa alasan mendasarnya, jika dia (istri -pen) ternyata menurut suami ada beberapa kekurangan yg sekiranya hanya bisa diisi oleh orang lain. Mungkin itu bisa terjadi poligami.
    Kuncinya hanya satu yaitu netral dan open mind. Jangan libatkan emosi saat mengambil keputusan.

    Maaf kalo ada salah2 kata.

    Reply
  2. eyang Mini
    eyang Mini says:

    Bismillah.
    Meski Allah memperbolehkan poligami tentunya ada syarat dan ketentuannya.
    Belajar dari sejarah istri Nabi Ivrahim AS yg awalnya membolehkan berpoligami, setelah perjalanan waktu jadi cemburu dan sakit hati. Maka terbuanglah ibu Hajar dan bayi Ismailnya ke padang tandus. Tetap 2 2 nya berdarah-darah tangisnya. Namun katena sholehah mereka bisa diam walau dipisahkan dengan dunia yg berjauhan.
    Sanggupkan ukthy menyikapi hal ini?
    Ujung2nya kalau saling jauh apa artinya itu?

    Reply
  3. Alma Ramadhani
    Alma Ramadhani says:

    Membicarakan tentang poligami. Jadi ingat kala awal2 pernikahan.. hihi
    Waktu itu lagi berbincang2 santai sama sang suami.. Dari yang ringan-ringan.. Hingga akhirnya kepikiran tentang Poligami ini..
    Karena di kalangan anak muda seperti saya waktu itu.. itu sangat sering diperbincangkan.. bahkan sampai ditulis di proposal pernikahan. 😀
    Aku memberanikan diri mengutarakan.. “Kak, adek mengizinkan kakak untuk berpoligami.” Sontak suami menatap mataku heran.. Dan diapun menjawab.. “Kakak ingin seperti bapak.. yang hanya mencintai Mamak.. Begitupun Kakak.. hanya ingin mencintai Adek.”

    Uhuk uhuk..
    Keselek jadinya kalau ingat masa itu., 😀

    Reply
  4. Eka Deffa
    Eka Deffa says:

    Komen dari Mak Susanti di grup Forkom ini kece juga untuk disimak:

    bersedia di poligami khan malah ladang pahala toh….

    saya malah salut sama yang bersedia di poligami,ada 3 temen saya yg poligami…. Alhamdulillah fine2 saja,yang 1 ini nikah waktu usia 24 jadi istri ke 4,suaminya pengasuh mahad di jateng,ini kalau sama istri pertama malah manggilnya mamah,sama ke 3,2 kakak

    yang 1 lagi jadi istri kedua,suami dr pakistan, pengacara,tinggal di hk,anaknya 5,rumah tangga mereka baik2 saja,hanya saja emang ada pembagian tertentu….

    1 lagi jadi istri pertama,ini kata beliau ujian kesabaran bener2…

    as for me,saya malah haha….pingin tuh ta’adud…..menurut saya malah disitu ladang pahala terbentang luas …. eh,error ya saya…. ????

    Reply
  5. Ade Zezen
    Ade Zezen says:

    Poligami itu halal karena sudah diatur dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Rosulullooh. Jadi sebelum berpoligami, semestinya harus benar-benar memahami aturan dan contoh tersebut.

    Reply
  6. Rotun DF
    Rotun DF says:

    Tentang poligami memang tidak akan pernah habis kalau dibahas, Mba. Macam2 pasti jawabnya. Ada temen saya yang bilang, boleh suaminya poligami asal dibelikan dulu batu nisan untuknya. Artinya, harus nunggu dia meninggal dulu, hahahaha.

    Tapi yang paling makjleb menurut saya adalah jawaban seorang suami tentang poligami: Saya tidak mau bertaruh. Untuk apa saya mencari kebagiaan yang belum pasti (karena bukan jaminan jika menikah lagi pasti bahagia), sementara luka hati yang saya timbulkan dari perbuatan itu pasti (luka hati istri pertama).

    Katanya, seridho2nya istri agar suaminya menikah lagi, pastilah sedih, pastilah berdarah2. Hanya kadarnya saja yg beda antara satu dengan yang lainnya 🙂

    Btw salam kenal Mba^^

    Reply
  7. faiza
    faiza says:

    Wah ramee… gimana ya eka..Islam itu agama yang sangat indah sangat adil.. Menikah itu naik turun sekali dan tantangannya besaaaarr.. poligami ini aku ibaratkan kaya jaring dibawah permainan circus yang meniti tali dengan tongkat.. akankah pemain circus itu menjatuh jatuhkan dirinya ke jaring dibawahnya? Kalau pemain itu cerdas dan hebat dia tentu tidak akan membiarkan dirinya karena ada tongkat yg bisa dia pegang dan terus berjalan walau talinya sulit sekali dan bergoyang sekali.. tapi misal pemain itu jatuhpun ke jaring penonton dan orang lain pun tentu maklum kan orang tsb hanya manusia.. Istri sy ibaratkan sebagai tongkat penjaga keseimbangan sbisa mkn menjaga si pemain tetap tegak berdiri tp kl tongkatnya lapuk dan rusak ya tongkat ngga bs dong maksa maksa kl ga ad jaringnya si pemain bs terjerumus dalam ketinggian yang menyakitkan dan berbahaya sekali (dalam hal ini neraka kl si suami ngga poligami tp terjatuh) semoga eka memahami kalimat mbulet saya dipagi hari ini :p. Oia jawaban saya? Saya harus jadi tongkat patah dulu untuk si pemain saya jatuh ke jaring tsb 🙂

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.