Virus Kejar Setoran

“Huhhhhfff sudah weekend, namun otak masih kapir (kakean/kebanykan pikir.red),” sebuah kalimat yang terlintas pada benakku akhir pekan ini. Penyakit suka menunda pekerjaan memaksa aku terjangkit virus baru lagi. Yaitu virus kejar setoran. Bayangkan saja, kerjaan yang harusnya bisa dilakukan bertahap setiap hari saat waktu senggang atau jam istirahat, justru terlewatkan begitu saja. Akupun lagi dan lagi kehilangan banyak waktu berharga. Akibatnya saat harus bersantai, aku harus kejar setoran.

Meski sudah lumrah kita dengar, namun du akat tersebut (kejar + setoran) bisa dikonotasikan menjadi sebuah kegiatan yang terpaksa dilakukan karena adanya sebab dan akibat. Sedangkan sesuatu yang terpaksa, biasanya hasilnya tidak maksimal. Kalaupun ada ya hanya sekedar untuk menutup terjadinya akibat atas sesuatu kesempatan yang terabaikan.

Contoh mudahnya seperti ini, kita setiap hari dianjurkan makan sehari 3 kali. Sehingga dalam seminggu adalah 3 x 7 = 21 kali. Namun jika porsi makan 21 kali tersebut kita habiskan hanya pada akhir pekan saja, yaitu 10 piring di hari Sabtu dan 11 piring lainnya pada Minggu apa yang terjadi? Silahkan jawab sesuai dengan argument anda masing-masing.

Banyak orang telah sadar jika untuk menghilangkan virus kejar setoran adalah dengan berjuang mendisiplinkan diri pada komitmen yang telah diambilnya. Namun lagi-lagi sebuah iman tak akan meendapat pengakuan tanpa adanya ujian (kok jadi kesana??? Hehehee). Semakin kita berusaha komitmen, pasti banyak godaan bersliweran yang menggoda.

Sehingga muncullah kosa kata baru, yaitu Tarsok (entar dan besok). “Nanti dech kan masih ada waktu,” kalimat yang sering aku pakai. Padahal tak tahu tiba-tiba saat waktunya sudah mepet dan harus segera dikerjaan, ada kesibukan lain yang mendera. Pada website ku inipun telah berulang kali aku menulis untuk berkomitmen melawan virus-virus penundaan dan kemalasan, dan apalah-apalah. Tapi lagi-lagi godaan begitu besar.

“Tak ada kesuksesan tanpa disiplin,” kutipan dari sebuah seminar Ippoh Santosa. Pada semua jenis profesi pasti memang memerlukan sebuah kedisiplinan diri. Tapi entahlah, godaan, oohh godaann, , , , Jadi apa bedanya penulis dengan maaf supir bajaj?

****
Loa Kulu – Kutai Kartanegara, saat terserang virus kejar setoran.

4 replies
  1. arsa
    arsa says:

    Hihihi gambarnya sopir bajaj yg lagi ngebut, pas banget. Procastination, atau penundaan, kalo dlm bidang psikologi. Saya banget nih hahaha… Tapi saya kalo nulis terus terputus itu kalo mau melanjutkan lagi udah gak mood, akhirnya hanya menjadi draft saja. Jadi cari waktu yg bisa bener2 konsen nulis dlm 1 waktu sekaligus, dan itu hanya bisa dilakukan di akhir pekan (yaah…. excuse lagi hehehe)

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.